Popular Post

AKU ADALAH KEKASIH BAPAKKU

By : Unknown
AKU ADALAH KEKASIH BAPAKKU

Bapak saya seorang tentara. Pada tahun 1990 bapak melaksanakan tugas yaitu AMD ( Abri Masuk Desa ) pada saat itu, kalau sekarang namanya TMMD ( Tentara Manunggal Membangun Desa )selama 21 haridan bapak saya pada waktu itu masih berstatus bujangan dengan pangkat Prada ( Prajurit dua ).
Pada saat itu bapak saya berkenalan dengan seorang gadis bernama Erlin Vionita. Selama 21 hari itulah bapak saya dan gadis yang bernama Erlin Vionita menjalin hubungan. Namun selama hubungan itu berlangsung orang tua dari Erlin Vionita tidak merestuinya, karena katanya kalau kamu punya suami tentara akan sering ditinggal tugas dan hidup sengsara karena gajinya yang sedikit. Akhirnya karena hubungan itu tudak mendapat restu, hubungan itupun putus.
Di tahun 1992 bapak saya bertemu dengan gadis bernama Mugiasih. Pada saat itu gadis yang bernama Mugiasih ini ikut kakaknya yang punya suami tentara yang berdinas satu kesatuan di Kompi Senapan A Yonif 408 yang berada di Kecamatan Weleri, Kabupaten Kendal, Jawa Tengah. Dari sebuah perkenalan dan seringnya bertemu itulah akhirnya terjadi hubungan yang serius dam akhirnya menikah.
Pada tahun 1993tepatnya tengah malam tanggal 1 Oktober 1993 lahirlah bayi perempuan yaitu saya. Saya dilahirkan pada waktu bapak masih menjalani latihan dalam rangka akan berangkat tugas di Timor – Timur. Satu minggu saya dilahirkan, bapak baru saja dapat ijin untuk pulang itupun hanya sehari saja untuk melihat bayi kecilnya yaitu saya. Bapak kemudian memberi nama bayinya yaitu
Erlin Fortunela Stavanavionita
Erlin diambil dari nama kekasih bapak yang waktu itu tidak direstui oleh orang tuanya. Ini diambil karena untuk mengingat dan mengenang agar bisa selalu dekat.
Fortunela ada dua makna yaitu
            Fortuna            : dewi keberuntungan
            Fortu               : karena bapak akan berangkat ke bekas jajahan Fortugis yaitu Timor –      Timur.   
Stavanavionita dari kata :
            S          : Senin Selasa
            T          : Tidak
            A         : Ada
            V         : Valentine ( kasih sayang )
            A         : Antara
            N         : Nardi
            A         : Asih
Jadi Stavana itu sendiri kalau diartikan bahwa Senin dan selasa tidak ada kasih sayang antara Nardi dan Asih, karena pada waktu itu bapak melihat aku hanya satu hari kemudian berangkat tugas pada hari itu.
Vionita adalah nama belakang dari Erlin kekasih bapak tadi.

Jadi itulah asal – usul nama saya Erlin Fortunela Stavanavionita.

BIDADARI YANG TERABAIKAN !

By : Unknown
BIDADARI YANG TERABAIKAN !
Oleh Erlin Fortunela S

            Malam yang dingin tak menghentikan langkah wanita cantik bernama lengkap Via Permata untuk  mencari nafkah dan menghibur dirinya. Yah, Via adalah wanita yang bekerja di sebuah klub malam di kota besar ini, Via merupakan wanita tercantik diantara teman – temannya, Via juga dulu sempat dinobatkan sebagai bunga desa di tempat tinggalnya sebelum para warga mengetahui pekerjaan Via adalah sebagai wanita pelayan lelaki hidung belang. Semalam Via mampu mendapat uang minimal 5 juta untuk setiap kali melayani lelaki yang membutuhkan kehangatan tubuhnya. Tak hanya parasnya yang cantik, namun Via juga memiliki tubuh yang sexi, ia selalu merawat tubuh dan menjaga penampilannya agar tetap terlihat menarik di hadapan kaum adam. Kehidupannya selama 24 tahun ini memang tak jauh dari dunia malam, sebab orangtuanya merupakan pemilik salah satu klub malam yang tersohor, namun kini ia sebatang kara dan harus mencari uang utnuk biaya kehidupan sendiri karena orangtuanya meninggal dalam kecelakaan tunggal 5 tahun yang lalu.
            “Via sayang, nanti sama Om Ardi yaa, Om butuh kehangatan kamu nih…” terdengar suara berbisik dibelakang telinga Via, hangat dan sedikit geli rasanya.
            “Iya Om malam ini Via sepenuhnya milik Om deh, tapi Via mau uangnya juga ditambah ya Om soalnya Via butuh banget uang nihh.. .” memegang tangan Om Ardi dengan lirikan yang mesra Via merayu.
            “Tenang aja Via, 10 juta cukup ?? atau 15 juta ?? asal kamu mau nemenin Om”
            “15 juta, deal !!”
            “Oke, kita have fun sekarang yaa, Om sudah pesan penginapan dengan fasilitas VVIP untuk kita” ajak Om Ardi sambil merangkul pundak Via.
            Hanya dengan senyuman manis menandakan bahwa Via sepenuhnya milik Om Ardi saat malam itu. Via memang tidak mau jika hanya dibayar dengan uang sedikit karena kebutuhannya sebagai wanita pasti banyak, ya ke salon, belanja dan lain – lain. Via tak mau melayani lelaki jika tak berduit. Malam itu Via sungguh menikmati fasilitas yang diberikan Om Ardi kepadanya, Via tak memperdulikan anggapan para tetangganya nanti jika dia pulang waktu matahari mulai terbit.

Ӂӂӂ
            Siang itu terdengar bunyi handphone Via, ia beranjak bangun dan mulai menerima telfon dari seseorang yang tak dikenalnya. Ya ternyata itu lagi – lagi adalah omelan dari istri para lelaki yang ingin dihangatkan tubuhnya oleh Via. Via sudah biasa mendapat omelan  dan cibiran seperti itu. Para tetanggapun sering mengolok – oloknya, namun sedikitpun tak pernah ditanggapi oleh Via.
            Via membalik kalender yang terpajang didinding kamarnya, ia menghitung tanggal – tanggal yang ada, harusnya 2 minggu yang lalu adalah waktu Via datang bulan, astaga Via terlambat 2 minggu.
            “Astaga , ini nggak mungkin, aku selalu cek sebelum melakukan suatu hubungan, kenapa ini bisa terjadi, nggak mungkin kan aku hamil, aku harus gimana sekarang ??” Via mulai kebingungan dan memutuskan untuk segera pergi ke dokter. Akhirnya Via mulai mengetahui jika dia hamil, tapi dengan siapa ia tak tahu, banyak yang tidur dengannya. Via mulai pergi ke klub dan meminta pertanggungjawaban kepada semua lelaki yang pernah tidur dengannya tapi tak satupun yang mau menikahi Via karena mereka sudah meiliki keluarga masing – masing. Kehancuran dirinya mulai ia rasakan saat ini, betapa Via merasa terasingkan dari dunia ini, tak ada satupun lelaki yang mau menikahinya. Namun tanpa disadari datang teman lama Via bernama Aditya Sanjaya, pria culun yang sejak SMA naksir banget sama Via, Via mempunyai ide untuk membujuk Adit supaya mau menikah dengannya. Pernikahanpun tidak diadakan dengan pesta cukuup sederhana saja.
Beberapa bulan kemudian setelah pernikahan berlangsung lahirlah seorang anak perempuan yang sangat cantik, namun sedikitpun hati Via tak bangga ataupun gembira, hanya Adit yang merasakan kebahagiaan, yaa Adit seorang manager sebuah restoran terlaris di kotanya. Pemberian namapun hanya Adit yang memberikan, QUEENZA AILEND NABILA nama yang cantik untuk bayi cantik dari seorang wanita cantik pekerja malam.

Ӂӂӂ

Tujuh tahun berlalu sedikitpun Via tak pernah memberikan kasih sayang kepada Ailend. Via selalu menganggap Ailend sebagai pembawa sial karena kehadiran Ailend pekerjaan Via terhambat karena bentuk tubuhnya mulai tidak karuan. Via kini hanya bisa berdiam diri dirumah dan sesekali hang out bersama teman – temannya. Ailend tak pernah protes meski diperlakukan tidak enak dari ibunya. Ayahnya sibuk bekerja hingga ia terkadang merasa kesepian apalagi dengan bisikan tetangga yang mengatakan bahwa Ailend bukan anak dari Aditya, Ailend adalah anak haram dari hubungan ibunya dengan beberapa lelaki, disekolahpun teman – temannya juga sering mengejeknya. Ailend hanya bisa menangis dan memendam dalam hati semua yang pernah didengarnya, ia ingin bertanya pada ibunya namun takut menyinggung perasaan sang ibu.
“Ayah, apa bener Ailend ini bukan anak ayah ? temen Ailend dan tetangga selalu berbicara kalau Ailend bukan anak ayah…” tatapan mata yang sedikit meneteskan air mata itu membuat Adit kasihan terhadap Ailend.
“Ailend anak ayah, Ailend jangan dengar kata orang yaa, mereka itu salah dan nggak tau apa – apa, Ailend sayang ayah kan, jadi Ailend harus percaya sama ayah yaa…” pelukan Adit membuat Ailend merasa tenang, hanya kehangatan pelukan ayahnya yang bisa ia rasakan.
“Yah, boleh Ailend tanya sesuatu ?”
“Tanya apa sayang ?”
“Kenapa ibu nggak pernah peluk Ailend seperti ayah peluk Ailend, kenapa ibu selalu benci sama Ailend yah…”
“Ibu nggak benci sama Ailend, mungkin ibu sedang ada pikiran atau kecapean, jadi Ailend harus mengerti yaa sayang…”
Senyuman manis Ailend membuat hati Adit sedikit gembira. Adit terkadang juga bingung terhadap istrinya yang tak pernah memperhatikan anaknya sejak kecil. Setahu Adit Via wanita yang baik terhadap siapapun, Adit juga merasa bingung dan memutuskan untuk segera berangkat bekerja.

Ӂӂӂ

            “Ailend, cepat kamu bersih – bersih rumah, halaman rumah kotor, dapur berantakan, cucian masih numpuk, kamu ngapain aja sih seharian nggak kerja, kamu pasti main kan !!!” ucap Via sambil mencubit tangan Ailend.
            “Nggak bu, Ailend tadi ngerjain tugas sekolah…”menundukan kepala dan tubuh gemetar Ailend menghadapi sikap ibunya yang selalu seperti ini setiap harinya jika ayahnya tidak ada di rumah.
            “Alasan saja, kamu itu pemalas yaa !!!” sambil menyeret tubuh gadis kecil itu Via membawa Ailend ke dapur untuk membersihkan semua yang berantakan dan kotor. Ailend hanya bisa menangis sambil menuruti perintah ibunya. Ailend tak mengerti kenapa ibunya sekejam ini, tak seperti ibu pada umumnya yang selalu menyayangi anaknya. Tiba – tiba Ailend merasa pusing dan tubuhnya lemas, ia mencoba berjalan mencari ibunya, namun ibunya tak mau tahu apa yang terjadi. Pingsan, itu yang dialami Ailend didepan ibunya, tapi sedikitpun tak tergugah hati seorang ibu melihat anaknya seperti itu. Ketika tersadar Ailend tetap berada diposisi awal ia terjatuh dan pingsan, Ailend mencoba untuk bangun dan mencari ibunya, namun tak ditemukannya. Ailend segera mengambil segelas air dari lemari es kemudian melanjutkan pekerjaannya yang tertunda tadi.
            “Eh, udah sadar ! Nanti kamu setrika baju – baju ditumpukan itu, secepatnya selesaikan !!” bentak Via terhadap anaknya.
            “Iya bu…” Ailend hanya hanya bisa menuruti perkataan ibunya, sebab jika tidak ibunya akan melakukan hal yang lebih kejam kepadanya.
            Ailend tak pernah mengeluh atas apa yang dilakukan ibunya kepadanya. Hingga suatu hari Adit melihat Ailend sedang mencuci baju, kebetulan Adit pulang cepat dan tak mendapati Via dirumah. Adit terkejut jika ternyata selama ini Ailend yang mengerjakan pekerjaan berat itu. Kemarahan Adit terhadap Via memuncak saat melihat wajah Ailend yang pucat dan badannya yang panas.
            “Sayang, kenapa kamu kerjain kerjaan ini, kamu kan masih kecil, badan kamu juga pucat dan panas banget, kita ke dokter yuk…” ucap Adit kepada Ailend dengan kelembutan.
            “Nggak usah ayah, Ailend masih kuat kok buat kerjain ini, Ailend kan tiap hari melakukan semua ini Ayah, apa ayah mau bantuin Ailend ?” dengan senyum polos anak kecil Ailend menatap ayahnya.
            “Memang siapa yang menyuruh kamu melakukan semua ini nak..”
            “Ibu yang meminta Ailend untuk mengerjakan semuanya, ayah jangan marah sama ibu yaa, soalnya Ailend tahu ibu menyuruh Ailend seperti ini supaya Ailend mandiri ayah…”
            “Tapi Ailend, ibu kamu keterlaluan, biar ayah yang bilangin nanti kalau nggak boleh nyuruh Ailend kerja berat seperti ini biar Ailend nggak kecapean yaa sayang…”
            “Nggak usah ayah, Ailend ikhlas kok lakuin semua ini, Ailend sayang ibu, jadi Ailend nggak mau buat ibu sedih karena nggak nurut sama ibu…”
            Tiba – tiba Ailend pingsan setelah berkata seperti itu ke ayahnya. Adit segera membawanya ke rumah sakit. Setibanya dirumah sakit dokter segera menanganinya dan setelah diperiksa ternyata Ailend mengalami kanker otak stadium lanjut. Adit terkejut mendengar anaknya divonis seperti itu oleh dokter. Via yang tiba – tiba datang langsung mendapat omelan dari Adit. Adit sungguh kecewa dan kesal terhadap Via, ia tak menyagka wanita yang selama ini sangat dicintainya ternyata memiliki sikap yang busuk dalam hatinya. Via hanya tenang dan  tidak merasa bersalah sedikitpun mendengar ucapan Adit, bahkan Via sangat santai ketika mengetahui anaknya menderita kanker otak stadium lanjut. Via hanya cengar – cengir sendiri mengetahui semuanya, sedangkan Adit tanpa terasa menetes air dari kedua bola matanya. Adit sangat terpukul mendengar berita ini, tubuhnya lemas tak berdaya melihat anaknya terbaring di rumah sakit dengan penyakit seperti itu. Kekesalan Adit semakin memuncak ketika Via sedikitpun tak memperdulikan Ailend.
            “Gimana perasaan kamu sekarang, apa kamu puas melihat Ailend seperti ini, apa kamu merasa bangga sudah membuat Ailend mengalami semua ini, hahhh jawab Via, jawab !!!” bentak Adit sambil memegang pundak Via, wanita yang dicintai dan menyiksa bidadari kecilnya selama ini.
            “Kamu itu nggak usah keterlaluan gitu, biarin aja anak itu sakit, aku aja ibunya nggak peduli, kamu yang bukan ayahnya sok peduli !!!” celetuk Via tanpa sadar.
            “Apa kamu bilang, aku bukan ayahnya ??? Lalu siapa sebenarnya ayah Ailend, kamu bercanda kan Via, disaat seperti ini kamu masih bisa bercanda, dasar wanita gila !!”
            “Aku nggak bercanda, mungkin ini saatnya, menutupi lagi juga sudah nggak mungkin, kamu itu bukan ayah kandung Ailend, aku hamil sebelum menikah sama kamu, aku sendirii juga ngga tau Ailend itu anak siapa, aku terlalu banyak tidur dengan laki – laki, saat aku minta pertanggungjawaban semua menolak, dan akhirnya kamu datang saat waktu yang tepat, jadi aku bisa manfaatin cinta kamu untuk menjadi ayah dari bayi yang aku kandung agar aku tidak dilecehkan tetangga, apa kamu mengerti sekarang ???” ucapan dengan santai itu keluar dengan lancar dari mulut Via, tak ada penyesalan yang terlihat dari raut wajahnya.
            “Aku nggak nyangka Vi, kamu tega banget sama aku dan Ailend, kamu nggak apa – apa lakuin ini ke aku, tapi Ailend nggak sepantasnya kamu siksa seperti itu, Ailend nggak salah Vi, tapi kelakuan kamu yang salah !”
            “Sudahlah kamu jangan sok baik, Ailend itu membawa sial buat aku, jadi buat apa aku harus baik sama dia !”
            “Keterlaluan kamu Vi..” Adit berjalan menuju ruang perawatan Ailend sesampainya di ruang perawatan Ailend, Adit melihat Ailend sedang menangis.
            “Ailend sayang kamu kenapa kok nangis ?”
            “Ailend nggak apa-apa kok yah, emangnya Ailend sakit apa ?”
            “Ailend Cuma kecapean kok”
Setelah lama berbincang-bincang Via pun datang, tetapi ia tak mendekati Ailend sedikitpun. Via hanya berjarak 3 meter dari tempat tidur Ailend, ia merasa Ailend hanya tambah merepotkan dan menambah beban hidupnya.
“Cepat kemas-kemas barangmu lalu pulang, pekerjaan di rumah sudah banyak !”
“Iya bu ?”
“Kamu ini gimana Vi, Ailend kan masih sakit !” Celetus Adit.
“Ayah, Ailend kan udah nggak apa-apa, katanya tadi Ailend hanya kecapean lagi pula kalau Ailend kelamaan dirumah sakit nanti uang ayah habis, benar kata ibu kalau Ailend harus cepat pulang nanti kasihan ibu kalau harus beresin rumah, ibu nanti capek ayah, ibu kan seperti ini karena sayang sama Ailend, ibu nggak mau Ailend manja dan nggak bisa apa – apa, ibu kan baik mengajari Ailend mandiri ayah” jawab Ailend dengan penuh kelembutan.
“Kamu dengar kan apa kata Ailend, dia aja nggak protes kok aku suruh pulang, kenapa kamu yang ngeyel Dit.. Ayo Ailend cepat kemasi barangmu !” Bentak Via.
“Iya bu, Ailend akan beresin barang – barang Ailend…” dengan wajah yang masih pucat Ailend mencoba beranjak dari tempat tidur.
“Ailend sayang, kamu istirahat saja yaa disini, kata dokter tadi kamu nggak boleh kerja yang berat, kamu harus lebih banyak istirahat sayang…” Adit beranjak dari tempat duduk dan mencoba mencegah Ailend untuk membereskan barang – barangnya.
“Nggak apa – apa kok yah, Ailend udah kuat, Ailend juga udah sehat, Ailend kangen rumah, Ailend nggak mau tidur disini yah…”
“Ailend sayang, kamu sayang sama Ayah kan ? Ayah minta Ailend untuk beberapa waktu tidur disini dulu ya sayang…” minta Adit sambil menggendong anaknya yang terlihat pucat itu, Adit sedikit meneteskan air mata karena tak tahan dan tak sanggup menerima kenyataan yang terjdi saat ini.
“Ayah, Ailend nggak mau ngrepoti ayah dan ibu, Ailend kuat kok yah…”
‘Ahhh, udah ah nggak usah sok drama, cepat ayo pulang, nggak bisa diajak cepat ya kalian, dasar pembawa sial !!!” terdengar suara keras dan kasar memecah telinga Adit, yaa itu suara Via.
“Tuh kan yah, ibu nyuruh kita cepat pulang, itu tandanya ibu mengajari Ailend untuk tepat waktu, ibu itu baik ayah, ibu selalu memberikan perhatian ke Ailend, ibu selalu mengajarkan Ailend untuk menjadi anak yang kuat dan tegar, yang tidak durhaka ayah” kepolosan Ailend dengan ucapan itu membuat hati Adit menangis haru, anak cantik berhati malaikat ini diabaikan begitu saja oleh Via, dimana hati Via hingga ia tak melihat sosok bidadari kecilnya yang membutuhkan kasih sayang dan perhatian.
“Ya sudah ayah bantu mengemasi barangnya ya sayang…” menatap bidadari kecil yang kini bermuka pucat Adit merasa bersalah karena tak bisa melindungi malaikat kecilnya.
“Iya ayah, terimakasih” jawab Ailend polos.
“Sudah cepat bereskan jangan banyak bicara !!!” Bentak Via kasar.
Adit membantu Ailend untuk segera membereskan dan cepat pulang. Adit tak tega melihat Ailend menderita seperti ini, meski Adit mengetahui bahwa Ailend bukan anak kandungnya, namun Adit sudah terlanjur sayang kepada Ailend seperti anak kandungnya sendiri.

Ӂӂӂ
            Siksa terus dilakukan oleh Via terhadap Ailend, Via ternyata sudah beku hatinya karena kelahiran Ailend, sedikitpun tak ada rasa sayang dari Via untuk anak yang telah dilahirkannya itu. Ailend pun hanya bisa menurut kepada ibunya karena Ailend berfikir bahwa ibunya seperti ini karena menyayanginya dan tak ingin menjadikan Ailend anak yang pemalas. Ailend selalu mengerti akan sikap Via terhadapnya.
            “Ailend, cepat kamu setrikain baju – baju ibu di dalam lemari, semuanya tidak rapi, kamu beresin semua, kalau tidak kamu nggak dapat jatah makan pagi ini !!” teriak Via dari dalam kamar menyuruh Ailend untuk bekerja kembali setelah sehat badannya.
            “Ibu tapi Ailend lapar, dari tadi malam Ailend belum makan bu…” Ailend kesakitan memegang perutnya yang keroncongan.
            “Heh, aku nggak mau tahu, kamu lapar ataupun apa , kamu harus lakuin semua yang ibu suruh, jangan males, masih kecil males kalau udah gede mau jadi apa kamu !!!” bentak Via sambil beranjak menuju Via dan mencubit lengannya.
            “Iya bu, Ailend akan lakuin yang ibu suruh” dengan berjalan pelan Ailend menuju lemari dan mengambil baju yang ada dikamar ibunya.
            Selalu setelah Ailend selesai melakukan pekerjaannya, Via menyuruhnya mengerjakan hal yang lain. Via tidak pernah merasa sedikit kasihan terhadap Ailend. Beberapa perkerjaan rumah selesai namun Ailend tudak juga diberi makan oleh Via. Ailend memintapun tak pernah dikasih, dan tiba – tiba Ailend pingsan kembali. Via beberapa kali mencoba membangunkan Ailend, namun Ailend tak juga bangun dari pingsannya. Via menelfon Adit untuk segera pulang dari kerjanya.
            “ Heh Dit, cepet pulang, anak sialan ini pingsan lagi, ngerepotin aja bisanya”
            “Iya Vi, aku pulang sekarang…” tampak kecemasan terlintas dalam suara Adit.
            Sesampai dirumah Adit segera menggendong dan membawa Ailend ke rumah sakit. Via menemani dengan wajah yang cuek dan tak sedikitpun cemas. Beberapa kali dokter memeriksa kondisi Ailend, namun tetap saja sama. Dokter sudah memperingati Adit bahwa Ailend tidak boleh terlalu capek dan harus menjaga kesehatannya namun Via selalu saja menyuruh Ailend untuk melakukan tugas berat. Dokter memvonis Ailend meninggal sebelum dibawa ke rumah sakit, jika Ailend bisa dibawa kerumahsakit lebih cepat mungkin masih bisa diselamatkan. Mendengar berita itu hati Adit menangis, Adit telah menyayangi Ailend seperti anak kandungnya tapi kenapa harus Ailend bidadari kecil yang tak berdosa itu secepat ini dipanggil oleh Sang Kuasa. Adit menyalahkan Via atas kematian Ailend, namun Via sedikitpun tidak mau mendengar apa yang dikatan Adit. Mereka membawa tubuh Ailend pulang untuk dimakamkan. Proses pemakaman pun Via tak sedikit terbuka hatinya. Hingga suatu hari Via menemukan sebuah catatan dikamar Ailend.
            Ibu, aku menyayangimu, aku merindukan hangat pelukmu, aku ingin merasakan kasih sayang dari ibu, aku kangen sama ibu, aku cinta ibu, aku tau ibu sebenarnya menyayangiku sehingga ibu ingin aku menjadi anak yang rajin bukan pemalas, yang mandiri bukan selalu bergantung pada orang lain. Ayah sangat menyayangiku, aku juga sayang ayah tapi aku bisa setiap saat merasakan hangat pelukan ayah, aku ingin merasakan hangat pelukan ibu, kapankah ibu mau memelukku ? Apa hingga tubuhku nanti terbaring lemah ibu tak mau memelukku ?? ibu aku tau umurku sudah tidak lama lagi, meskipun ayah tidak mau memberitahu tentang penyakitku ini tapi aku mendengarkan pembicaraan dokter bahwa aku divonis penyakit kanker otak bu?? aku menyayangimu bu, aku tak mau ayah menyakitimu…
ibu aku berharap ibu membaca surat kecil ini… 
            Aku menyayangimu buu… Ailend sayang ibu…
            Selembar kertas itu membuat air mata Via menetes tanpa terasa, Via mulai menyadari bahwa ternyata anak yang selama ini dianggapnya pembawa sial sangat menyayanginya. Via memberikan selembar kertas itu ke Adit. Aditpun menangis dan segera mengajak Via untuk berkunjung ke makam Ailend. Via menangis sejadi – jadinya dimakam Ailend. Penyesalan Via terlambat untuk meminta maaf ke Ailend, kasih sayang yang akan diberikan juga tidak mungkin lagi, Via benar – benar menyesali semua sikapnya selama ini. Via hanya bisa menangis dan berteriak meminta maaf pada bidadari kecilnya yang selama ini diabaikannya, yang selama ini tak pernah dianggap kehadirannya. Penyesalan yang datang terlambat disadari oleh Via. Adit hanya bisa menenangkan Via yang sudah sadar akan kesalahannya selama ini. Via merasa tak kuat menanggung penyesalannya.
            Sebulan Via tak mau bicara, makanpun hanya sedikit, Via tak merawat tubuhnya sedikitpun, dibiarkannya berantakan. Via masih merasa bersalah atas kematian Ailend, Bidadari kecil yang cantik yang telah tulus menyayanginya, akhirnya Via mencoba untuk menyusul Ailend dan meminta maaf, Via meninggal dalam kecelakaan ketika menuju ke makam Ailend. Adit yang saat itu bekerja akhirnya pulang dan meratapi kejadian yang terjadi pada istrinya. Adit merasa tak kuat hidup tanpa orang – orang yang ia sayangi, dan pisau yang ditancapkan di dadanya menunjukkan bahwa Aditpun menyusul Via dan Ailend.


KEKUATAN ADAT MELEMAHKAN EMANSIPASI WANITA

By : Unknown
KEKUATAN ADAT MELEMAHKAN EMANSIPASI WANITA
Novel Cinta Yang Membawa Maut
Karya Nur Sutan Iskandar & Abdoel Ager
Oleh Erlin Fortunela S.
5.11.06.13.0.006

A.    Pendahuluan
Sastra merupakan seni bahasa yang mengandung nilai-nilai kebaikan yang ditulis dengan bahasa yang indah dan memiliki makna yang dalam berdasarkan pengalaman jiwa manusia serta disusun dengan bahasa yang indah sehingga mencapai nilai estetika yang tinggi. Novel adalah sebuah karya fiksi prosa yang ditulis secara naratif, biasanya dalam bentuk cerita.
Novel lebih panjang (setidaknya 40.000 kata) dan lebih kompleks dari cerpen, dan tidak dibatasi keterbatasan struktural dan metrikal sandiwara atau sajak. Umumnya sebuah novel bercerita tentang tokoh-tokoh dan kelakuan mereka dalam kehidupan sehari-hari.
Novel menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah karangan prosa yang panjang mengandung rangkaian cerita kehidupan seseorang dengan orang disekelilingnya dengan menonjolkan watak dan sifat setiap pelaku. Karya sastra apalagi novel dapat dinikamati oleh berbagai kalangan yang biasanya disebut sebagai masyarakat pecinta sastra.
Zaman terus berganti kearah yang lebih cerah. Dalam peralihan zaman ini, karya – karya satrawan yang terlarang dulu dapat diterbitkan kembali. Saat ini masyarakat mendapat kesempatan dan kebebasan  untuk membuat karya – karya besarnya, sehingga mampu berekspresi dengan kemampuan yang dimilikinya untuk menciptakan suatu karya sastra.
B.     Kekuatan Adat Melemahkan Emansipasi Wanita
Novel Cinta Yang Membawa Maut karya Nur Sutan Iskandar dan Abdoel Ager diterbitkan oleh Balai Pustaka tahun 1926 pada cetakan pertama. Cinta Yang Membawa Maut, dari judulnya saja kita sudah dapat membayangkan isi dari novel tersebut, mungkin mengenai kekuatan cinta yang tak sampai hingga akhirnya dibawa sampai mati.
Ternyata perkiraan saya benar, novel ini menceritakan kisah cinta yang tak sampai melalui tokoh – tokohnya dengan gaya Melayunya yang khas. Banyak nasihat yang dapat diambil sebagai pelajaran dalam pergaulan kita sehari – hari.
Cinta yang tak mendapat ijin dari orang tua nampaknya akan sia – sia saja.Bahwa telah diketahui  kuasa orang tua itu besar kepada anaknya, kerasnya kekuatan adat di negeri ini dan uanglah yang berkuasa pula. Jikalau anak telah menghendaki untuk menjadi suami istri kelak, akan tetapi kalau orang tua tidak setuju jangan pernah berharap semua itu akan jadi nyata. Dahlan dan Syamsiar yang telah terlanjur berkata kelak akan menjadi suami istri tanpa terlebih dahulu memberi tahukan ini kepada orang tua masing – masing kelakpun tak akan berakhir bahagia. Jika menurut adat istiadat bangsa ini, tidak patut seorang laki – laki datang meminang seorang gadis, kepada gadis itu sendiri, karena yang terpenting adalah orang tua sajalah yang harus merundingkan itu semua, jika kedua belah pihak sudah sepakat meskipun seorang laki – laki dan perempuan itu belum saling kenal maka pernikahanpun sudah boleh dilaksanakan. Disinilah yang menyebabkan tertindasnya kaum wanita dan banyaknya pernikahan yang tidak berlangsung selamanya. Dengan kekuatan adat istiadat yang tak dapat lagi di langgar semakin membuat kaum yang lemah tertindas, dengan kekuasaan orang tua pula terhadap anaknya membuat anak untuk tidak berani menentukan sendiri arah hidup yang dipilihnya karena jika anak melanggar dan tak mau menuruti perintah orang tua sama saja itu durhaka, apalagi dengan orang yang mempunyai harta yang berlimpah apa saja bisa dilakukan olehnya, yang mementingkan kebahagiaannya sendiri dibandingan kebahagiaan orang lain dan masyarakat umum. Adat istiadat dengan perjodohan nampaknya membuat kaum wanita merasa tak berdaya dan tak mampu lagi berbuat apa – apa, karena jika ia menolak untuk dijodohkan itu berarti ia telah durhaka kepada orang tua. Sebaliknya begitu apakah orang tua tidak pernah sedikitpun peduli dengan kebahagiaan anaknya, yang ada dipikiran mereka bahwa perjodohan ini untuk mengikat tali silahturahmi dan mengangkat derajatnya jika bermenantukan orang kaya.
Dahlan dan Syamsiar adalah sahabat yang diam – diam menyimpan rasa cinta dan kasih sayang mereka di hati masing – masing. Namun akhirnya semua itu terungkap juga oleh keduanya. Dahlan dan Syamsiar menyembunyikan hubungan mereka dari keluarga masing – masing, yang ini menandakan bahwa Syamsiar telah melanggar adat yang ada, tak baik jika seorang gadis berjalan berdua dengan laki – laki tanpa ada orang kepercayaan yang mendampinginya. Dan setelah semuanya berjalan tiba – tiba Dahlan mendapatkan surat tugas dari Tuan Insperkur sekolah Bumiputra untuk ke Bukittinggi untuk melaksanakan ujian hulponderwijzer yang diadakan di Sekolah Raja ( Kweekschool ), sebuah ujian untuk menjadi guru bantu. Sebelum keberangkatan Dahlan Syamsiar berpesan kepada Dahlan bila sesampai di Bukittinggi hendaklah langsung mengirim surat, namun apa yang terjadi tak disangka, sesampainya disana Dahlan malah mengulur waktu untuk menulis surat karena ia percaya bahwa Syamsiar akan selalu setia menantinya dan tak akan berpaling ke laki – laki lain. Setelah mengikuti ujian itu Dahlan pun lulus dengan nilai terbaik dan nomor satu, namun tak disadari yang terjadi di Sawahlunto tempat kekasihnya bahwa Syamsiar telah dijodohkan oleh orang tuanya dengan anak Baginda Suleman yang bernama Abdullah. Perjodohan ini tak diberitahukan ke Syamsiar, bahkan pesta pernikahannya akan dilaksanakan 3 hari kedepan.
Namun meskipun begitu Syamsiar akhirnya tahu, ia menangis tak kuasa atas semua yang diketahuinya saat ini. Secepatnya ia pergi kerumah sahabatnya untuk menulis surat kepada Dahlan yang mengabarkan perjodohan ini. Syamsiar meminta Dahlan untuk segera pulang dan menolongnya lepas dari semua ini. Namun surat Syamsiar datang terlambat, semua terlambat diketahui oleh Dahlan. Sebagai anak yang berbakti kepada orang tua dan mematuhi adatnya, ia pun menerima perjodohan ini. Syamsiar pun menikah terpaksa dengan Abdullah, namun apa hendak dikata ia tak merasa bisa mencintai suaminya itu, rasa cintanya begitu besar pada Dahlan. Setelah itu beberapa hari kemudian Dahlan kembali ke Sawahlunto dan menemui Syamsiar secara diam – diam. Tetapi setelah pertemuan itu keesokan harinya Dahlan pergi mengajar dan mendapatkan surat yang berisi Acte van bekwaamheid yang tandanya Dahlan telah berhasil dalam cita – citanya menjadi guru bantu ( hulponderwijzer ) di Kutaraja.
Beberapa bulan Dahlan di Kutaraja ia selalu saja teringat Syamsiar, begitupun Syamsiar. Semenjak Dahlan meninggalkan Sawahlunto, Syamsiar tidak pernah bahagia hidup bersama Abdullah, justru hanya Dahlan yang ada di hati dan pikirannya. Syamsiar tak mampu lagi berpikir, semuanya kacau balau. Ia telah berusaha menjadi istri yang baik untuk Abdullah namun apapun yang dilakukannya tak pernah bisa membuatnya nyaman tinggal dan hidup bersama Abdullah. Semakin Syamsiar mencoba untuk mencintai Abdullah, semakin ia teringat pada Dahlan yang mungkin tak kan bertemu lagi di dunia ini. Beginilah hasil pernikahan yang tanpa didasari cinta dan kasih sayang, yang hanya mengandalkan adat, harta, kekuasaan orang tua terhadap anaknya dan anak yang tak mampu menolak perintah orang tuanya. Syamsiar tak bahagia hidup bergelimang harta, ia merindukan saat – saat bersama Dahlan yang sederhana namun mampu menjaga cinta kasih sayangnya.
Dahlan pun yang jauh di Kutaraja menderita sakit dan harus berulang – ulang pergi ke dokter. Dahlan yang selalu memikirkan Syamsiarpun tak tahu harus bagaimana lagi. Ia menyesal mengapa dulu tak ia katakan langsung apa maksud hati yang dikehendaki kepada orang tua Syamsiar. Andaikan waktu itu Dahlan sampaikan niatnya mungkin sekarang tak akan seperti ini. Penyesalan selalu datang pada akhirnya jika semuanya telah hilang dan lenyap dari genggaman. Dahlanpun akhirnya meninggal dunia karena sakitnya itu, dan Syamsiar pun bunuh diri karena tak kuat menahan rasa sayang dan rindu kepada Dahlan. Sejak saat itu orang tua Syamsiar merasa telah menyesal menjodohkan anaknya dengan lelaki yang tak pernah dicintai anaknya. Karena sangat berduka cita atas meninggalnya Syamsiar akhirnya kedua orang tua Syamsiar meninggal dunia, Baginda Suleman pun meninggal dunia juga karena tak tahan melihat semua ini. Abdullah yang hampir gila selama bertahun – tahun karena kehilangan istrinya akhirnya menikah kembali dengan perempuan yang tulus mencintainya.
Dalam kisah ini dapat diambil amanat, bahwa kekuatan adat, kekuasaan orang tua dan harta janganlah dijadikan penghalang dan diandalkan untuk menentukan kebahagiaan seseorang, jika memang adat itu benar dan baik sesuai dengan kehidupan maka itu memang patut dilaksanakan, serta janganlah orang tua berfikir cepat untuk menentukan kebahagiaan anak sebelum tahu yang sebenarnya isi hati anak tersebut dan menyesal kemudian, karena kebahagiaan anak itu tidak hanya diukur dengan materi dan harta yang berlimpah. Dalam novel ini alur yang digunakan alur maju. Nur Sutan Iskandar menggambarkan tokoh Syamsiar sebagai gadis yang menurut kepada orang tua, baik hati dan peduli terhadap teman serta tidak berani jujur tentang kata hatinya pada kedua orang tuanya, sedangkan Dahlan seorang guru yang baik hati dan dicintai oleh muridnya, namun Dahlan tidak berani mengungkapkan perasaannya terhadap orang tua Syamsiar.
Gaya bahasa yang digunakan dalam novel ini memang dominan bahasa melayu,  karena cetakan pertamanya tahun 1926, waktu bahasa melayu masih menjadi bahasa pengantar karya sastra Indonesia.Banyak hal menarik dalam novel ini, sambungan antar bagian cerita tersusun begitu baik, permainan perasaannya sangat menyentuh hati apalagi novel ini ‘sad ending’. Pembawaan cerita Nur Sutan Iskandar dan Abdoel Ager menambah nilai tersendiri bagi novel ini. Secara keseluruhan, penilaian saya terhadap novel ini hampir sempurna, karena saya tidak menemukan keganjalan ataupun kekurangan dari novel ini. Mungkin karena saya bukan kritikus yang handal, tapi pendapat seseorang pastilah berbeda, saya memiliki hak untuk itu.

C.    Penutup
Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa :
1.      Adat merupakan suatu tradisi yang sulit untuk dihilangkan karena itu warisan turun temurun yang layaknya harus dilestarikan dan dijaga. Jangan sampai adat itu menjadikan sesuatu yang harus dipaksakan dalam kehidupan sehari – hari. Ambil sisi baik dan buang sisi buruknya karena belum tentu adat tersebut sesuai dengan kehidupan saat ini.
2.      Harta merupakan pemegang kekuasaan dalam segala bidang sehingga dengan harta semua akan dapat bertindak sesuka hatinya tanpa memikirkan dampak yang akan terjadi.
3.      Kekuasaan orang tua akan berpengaruh pada kehidupan anak – anaknya sehingga membentuk jiwa dan kepribadian anak yang sesuai dengan kemauan orang tua yang mempengaruhi psikologis anak tersebut.

4.      Cinta adalah perasaan sayang, saling membutuhkan dan pengertian. Karenanya cinta itu akan selalu membutakan hati dan perasaan bagi siapa yang dihinggapinya, sebab cinta akan membuat hidup kita antara bahagia dan sengsara. 

SENANDUNG CINTA KARYA KAHLIL GIBRAN INTERPRETASI SEMIOTIK RIFFATERE

By : Unknown
SENANDUNG CINTA KARYA KAHLIL GIBRAN
INTERPRETASI SEMIOTIK RIFFATERE
MAKALAH
Untuk Memenuhi Persyaratan
Ujian Akhir Semester Genap
 








Erlin Fortunela Stavanavionita
5.11.06.13.0.006

UNIVERSITAS ISLAM MAJAPAHIT MOJOKERTO
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
                                        PRODI BAHASA  DAN SASTRA INDONESIA                                          2013       

KATA PENGANTAR

Dengan puji syukur kehadirat ALLAH SWT pemberi kemudahan bagi jalan hidup sehingga saya dapat menyelesaikan makalah tentang “SENANDUNG CINTA KARYA KAHLIL GIBRAN INTERPRETASI SEMIOTIK RIFFATERE” dapat terselesaikan tanpa ada hambatan apapun. Dalam pengkajian menggunakan intepretasi semiotik riffatere sangat tepat untuk menganalisis puisi ini dan kandungan makna yang terdapat dalam untaian kata – kata yang indah
Dalam pengerjaan makalah ini, saya mendapat bantuan dari berbagai pihak yang ada. Untuk itu saya ingin mengucapkan terimakasih kepada berbagai pihak yang telah membantu saya dalam terselesaikannya makalah ini.
Saya mengucapkan terima kasih kepada :
1.       Prof. DR. Machmoed zain, APU selaku rektor.
2.      Dr. Ludi Wishnu Wardana, MM,selaku dekan.
3.       Bapak SamsunM.A selaku dosen pengampu .
4.       dan rekan – rekan sekalian. Semoga makalah ini bermanfaat untuk kita semua.
Akhirnya saya hanya mampu berharap dan berdoa semoga segala bantuan yang telah diberikan mendapat balasan dari Allah SWT. Sayapun menyadari sebagai manusia, saya mempunyai banyak kekurangannya, maka tegur sapa yang bersifat membangun akan diterima dengan senang hati.

           
                                                                                                            Penulis









DAFTAR ISI
Halaman Judul
.........................................................................
1
Kata Pengantar
.........................................................................
2
Daftar Isi
.........................................................................
3
BAB I PENDAHULUAN
.........................................................................
4
1.1 Latar Belakang
.........................................................................
4
1.2 Rumusan Masalah
.........................................................................
6
1.3 Tujuan Penelitian
.........................................................................
6
1.4 Manfaat Penelitian
.........................................................................
6
1.5 Definisi Operasional
.........................................................................
7
BAB II KAJIAN PUSTAKA
.........................................................................
8
BAB III PEMBAHASAN
.........................................................................
10
3.1 Puisi
.........................................................................
10
3.2 Pemenggalan Puisi
.........................................................................
11
3.3 Parafrase Puisi
.........................................................................
12
3.4 Pembacaan Heuristik
.........................................................................
13
3.5 Pembacaan Hermeneutik
.........................................................................
15
3.6 Matrik dan Model
.........................................................................
17
3.7 Varian
.........................................................................
18
BAB IV PENUTUP
.........................................................................
20
4.1 Simpulan
.........................................................................
20
4.2 Saran
.........................................................................
20
DAFTAR PUSTAKA
.........................................................................
21








BAB I
PENDAHULUAN

1.1    Latar Belakang
Perasaan yang ada dalam diri manusia tidak dapat dipungkiri,  karena setiap manusia di ciptakan dengan akal, pikiran, dan perasaan. Akal digunakan untuk memahami sesuatu, sedangkan pikiran dapat disebut sebagai  gerak pikiran atau rasa hati yang tidak tetap, sehingga perasaan mampu mengungkapkan sesuatu yang terjadi dalam hati manusia. Sekalipun manusia yang mempunyai perasaan tak mampu menggunakannya dengan baik, ada yang menggunakan perasaan dengan baik, bahkan ada yang mempermainkannya. Akhir-akhir ini manusia tidak dapat mengutarakan perasaannya dengan baik dikarenakan tidak memiliki keberanian dan merasa bimbang atas apa yang dirasakan. Bagi seorang pengarang yang peka terhadap permasalahan- permasalahan tersebut, dengan hasil perenungan, penghayatan, dan hasil imajinasinya, kemudian menuangkan gagasan/ idenya tersebut dalam karya sastra.
Sebuah karya sastra diciptakan untuk dapat dinikmati oleh pembaca. Untuk dapat menikmati suatu karya sastra secara sungguh-sungguh dan baik diperlukan pengetahuan tentang sastra. Tanpa pengetahuan yang cukup, penikmatan akan sebuah karya sastra hanya bersifat dangkal dan sepintas karena kurangnya pemahaman yang tepat. Sebelumnya, patutlah semua orang tahu apa yang dimaksud dengan karya sastra. Karya sastra bukanlah ilmu. Karya sastra adalah seni,  banyak unsur kemanusiaan yang masuk di dalamnya, khususnya perasaan, sehingga sulit diterapkan untuk metode keilmuan. Perasaan, semangat, kepercayaan, keyakinan sebagai unsur karya sastra sulit dibuat batasannya.
Sebuah karya sastra adalah ciptaan yang disampaikan dengan komunikatif tentang maksud penulis untuk tujuan estetika. Karya-karya ini sering menceritakan sebuah kisah, dengan plot dan melalui penggunaan berbagai perangkat sastra yang terkait dengan waktu mereka.Menurut bentuk atau subjek, karya sastra mungkin memiliki jenis yang berbeda seperti narasi (sebuah karya prosa, seperti novel atau cerita pendek ), puisi (komposisi dalam ayat yang mengekspresikan perasaan penulis), drama , epik (ayat-ayat yang menceritakan perbuatan pahlawan atau dewa-dewa) atau mengajar (yang berusaha untuk mengarahkan pembaca atau pendengar).
Dikhususkan saat ini adalah puisi yang merupakan ekspresi pengalaman batin (jiwa) penyair mengenai kehidupan manusia, alam, dan Tuhan melalui media bahasa yang estetik yang secara padu dan utuh dipadatkan kata-katanya, dalam bentuk teks yang dinamakan puisi. Masalah kehidupan yang disuguhkan penyair dalam puisinya tentu saja bukan sekedar refleksi realitas (penafsiran kehidupan, rasa simpati kepada kemanusiaan, renungan mengenai penderitaan manusia dan alam sekitar) melainkan juga cenderung mengekspresikan hasil renungan penyair tentang dunia metafisik, gagasan-gagasan baru ataupun sesuatu yang belum terbayangkan dan terpikirkan oleh pembaca, sehingga puisi sering dianggap mengandung suatu misteri. Puisi selalu berubah-ubah sesuai dengan evolusi selera dan perubahan konsep estetiknya (Riffaterre, 1987: 3).
Sebelum pengkajian aspek-aspek yang lain, pemakalah menganalisis atau mengkaji puisi yang berjudul “Senandung Cinta karya kahlil gibran interpretasi semiotik riffatere” karena dalam karya-karyanya, pesona cinta yang disulam sedemikian syahdu oleh tangan seorang Gibran dan indahnya rangkaian kata-kata yang membuat melayang dimabuk kepayang, sehingga membuat pemakalah tertarik untuk menganalisisnya agar dapat diketahui bahwa berjuang demi sesuatu yang dicintai merupakan sikap yang jauh lebih penting dan lebih mulia ketimbang berjuang melawan sesuatu yang di benci. Puisi karya Kahlil Gibran sangat menarik untuk dikaji dengan berbagai tema yang telah disajikan terutama tentang kekuatan cinta yang tak kan pernah ada habisnya. Cinta merupakan misteri kehidupan, tidak pernah tahu cinta itu datang dan akan pergi sebelum kita merasakan getarannya. Dalam “Senandung Cinta” ini hanya sedikit ungkapan yang tertuliskan, namun tak mampu untuk tergambarkan dan tersampaikan, perjuangan cinta yang begitu mendalam dan kadang membuat resah gelisah, itulah yang membuat pemakalah ingin mengkaji puisi yang begi indah ini hasil tulisan Kahlil Gibran.
Puisi “Senandung Cinta” adalah puisi karya Kahlil Gibran yang mencerminkan tentang betapa bimbangnya perasaan yang tak dapat diungkapkan. Memendam semua rasa dan tidak pernah mengungkapkannya pada orang yang terkasih hanya akan membuat gelisah hati, resah dan bimbang yang tidak pernah bisa diungkapkan dengan kata – kata apapun.
Untuk memenuhi persyaratan ujian akhir semester genap penelitian terhadap puisi ini dilakukan melalui intepretasi semiotik riffatere untuk dapat mengetahui kandungan makna serta matrik, model, dan varian yang terdapat dalam puisi tersebut.
1.2    Rumusan Masalah
Pentingnya melakukan penelitian terhadap puisi karya Kahlil Gibran tersebut tidak hanya demi mengembangkan sastra, tetapi juga untuk menjawab sejumlah masalah yang ada.Masalah pokok yang perlu diuraikan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1.  Bagaimana kandungan makna Senandung Cinta berdasarkan pembacaan
heuristik dan hermeneutik?
2.  Bagaimana matriks, model,dan varian yang terdapat dalam Senandung Cinta Karya Kahlil Gibran?
1.3    Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah yang dkemukakan diatas, maka tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut:
1.    mengungkap makna yang terkandung pada puisi Kahlil Gibran berdasarkan pembacaan heuristic dan hermeneutic.
2.    Mengungkap model bahasa yang terdapat dalam puisi Kahlil Gibran.
1.4    Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat kepada pembaca, khususnya pembaca dibidang sastra berupa pemahaman mengenai kandungan makna puisi Senandung Cinta berdasarkan pembaca heuristic dan hermeneutic, dan model bahasa yang terdapat dalam puisi tersebut, dan hubungan intertekstual puisi Senandung Cinta dengan teks lain.
Penelitian ini mempunyai manfaat teoretis dan praktis. Manfaat teoritis dari penelitian ini adalahuntuk memperkaya referensi mengenai pesona cinta yang direpresentasikan dalam suatu karya sastra, khususnya puisi, akan memberikan pengertian dan pemahaman mengenai cinta tidak menyadari kedalamannya dan terasa pada saat perpisahan tiba.
Manfaat praktisnya adalah penelitian ini dapat digunakan sebagai model  untuk melihat dan menganalisis puisi melalui pendekatan struktural dan semiotik.
Manfaat lain dari hasil penelitian ini adalah pembaca diharapkan mendapat pemahaman bahwa karya sastra lisan, khususnya puisi menarik untuk diteliti secara ilmiah dari aspek semiotik. Selain itu, hasil penelitian ini juga diharapkan dapat bermanfaat sebagai bahan rujukan atau bahan perbandingan untuk penelitian sejenis yang dilakukan terhadap karya sastra lain.

1.5    Definisi Operasional
1.5.1 Puisi senandung cinta karya kahlil gibran menceritakan tentang seseorang yang merasakan kegelisahan hati karena perasaan cinta yang tak dapat terlukiskan dan tak dapat di ungkapkan.
1.5.2 analisis puisi semiotic riffatere dipakai berdasarkan pertimbangan bahwa semiotic Riffaterre lebih mengkhususkan pada analisis puisi. Puisi Senandung Cinta salah satu jenis puisi lama, oleh karena itu pendekatan semiotic yang lebih tepat digunakan adalah pendekatan semiotic Riffaterre.























BAB II
KAJIAN PUSTAKA

Sastra adalah sesuatu yang mengacu pada milik atau berkaitan dengan sastra (himpunan pengetahuan yang berkaitan dengan menulis dan membaca dengan baik, atau seni puisi, retorika dan tata bahasa). Sebuah karya sastra adalahciptaan yang disampaikan dengan komunikatif tentang maksud penulis untuk tujuan estetika. Karya-karya ini sering menceritakan sebuah kisah , baik dalam atau ketiga orang pertama, dengan plot dan melalui penggunaan berbagai perangkat sastra yang terkait dengan waktu mereka.Menurut bentuk atau subjek, karya sastra mungkin memiliki jenis yang berbeda seperti narasi (sebuah karya prosa, seperti novel atau cerita pendek ), puisi (komposisi dalam ayat yang mengekspresikan perasaan penulis), drama , epik (ayat-ayat yang menceritakan perbuatan pahlawan atau dewa-dewa) atau mengajar (yang berusaha untuk mengarahkan pembaca atau pendengar).
Karya sastra juga dapat berupa tulisan (buku atau media cetak lain bermain cerita tanpa perubahan) atau lisan (diwariskan dari generasi ke generasi dan sering berubah dari waktu ke waktu, seperti legenda atau cerita rakyat). Karya-karya juga dapat taktil, ketika disesuaikan dengan kebutuhan orang-orang buta melalui Braille.Semiotika adalah ilmu tentang tanda-tanda,mempelajari fenomenal sosial-budaya, termasuk sastra sebagai sistem tanda (preminger 1974:980). Tanda mempunyai dua aspek,yaitu penanda (signifier,signifiant) dan petanda (signified,signifie). Penanda adalah bentuk formal tanda itu,dalam bahasa berupa satuan bunyi,atau huruf dalam sastra tulis,sedangkan petanda (signified) adalah artinya,yaitu apa yang ditandai oleh penandanya itu. Berdasarkan hubungan antara penanda dan petandanya ada tiga jenis tanda,yaitu ikon,indeks,dan simbol.
Ikon adalah tanda yang penanda dan petandanya menunjukkan ada hubungan yang bersifat alamiah, yaitu penanda sama dengan petandanya, misalnya gambar, potret, atau patung.
Indeks adalah tanda yang penanda dan petandanya menunjukkan adanya hubungan alamiah yang bersifat kausalitas, misalnya, asap menandai api, mendung menandai hujan.
Simboladalah tanda yang penanda dan petandanya tidak menunjukkan adanya hubungan alamiah; hubungannya arbiter (semau-maunya) berdasarkan konvensi. Hubungan antara penanda dan petanda bersifat konvensional, yaitu artinya ditentukan oleh konvensi.
Semiotik merupakan ilmu tentang tanda. Tanda ini akan digunakan untuk mengidentifikasi puisi senandung cinta karya kahlil gibran akan didapatkan korelasi yang komprehensif antara tanda dan makna. Semiotik yang akan digunakan adalah semiotik Rifaterre karena semiotik ini memiliki langkah-langkah khusus untuk menganalisis puisi. Bahasa yang merupakan sistem tanda dan sebagai medium karya sastra adalah sistem tanda tingkat pertama. Dalam ilmu tanda-tanda atau semiotik, arti bahasa sebagai sistem tanda. tanda tigkat pertama disebut meaning (arti) , karya sastra juga merupakan sistemtanda yang lebih tinggi kedudukannya dari bahasa, maka disebut semiotik tingkatkedua. Jadi sastra merupakan arti dari arti (meaning of meaning). Untukmembedakannya (dari arti bahasa), arti sastra disebut sebagai makna(significance). Dalam puisi, ketidaklangsungan ekspresi menduduki posisi yang utama. Ketidaklangsungan ekspresi yang dimaksud disebabkan oleh adanya penggantian arti (displacing of meaning), penyimpangan arti (distorting of meaning), dan penciptaan arti (creating of meaning).Hal kedua adalah pembacaan heuristik dan pembacaan hermeneutik. Pembacaan heuristik adalah pembacaan pada taraf mimesis atau pembacaan yang didasarkan konvensi bahasa. Karena bahasa memiliki arti referensial, pembaca harus memiliki kompetensi linguistik agar dapat menangkap arti (meaning).
Hal ketiga adalah penentuan matriks dan model. Dalam hal ini, matriks dapat dimengerti sebagai konsep abstrak yang tidak pernah teraktualisasi. Konsep ini dapat dirangkum dalam satu kata atau frase. Aktualisasi pertama dari matriks adalah model. Model ini dapat berupa kata atau kalimat tertentu. Berdasarkan hubungan ini, dapat dikatakan bahwa matriks merupakan motor penggerak derivasi tekstual, sedangkan model menjadi pembatas derivasi itu.









BAB III
PEMBAHASAN

3.1 PUISI
Senandung Cinta
Khalil Gibran

Jiwa yang terkapar nada rindu mengusik kalbu
Nyanyian yang tiada pernah tergores tinta
Nada kasih mengalir menembus sukma
Menyentuh batin mengalirkan sayang

Nyanyian yang tiada pernah tergores tinta
Sungguh...betapa segala resah mendesah
Bimbang mengguncang dalam ketidak-abadian
Untuk siapa nada ini kan menyapa

Di relung jiwa bersemayam segala rasa
Terhempas risau, melayang hilang
Menjelajah hati menjawab tanya
Hadir membayang dalam bayang-bayang
Getar ujung jemari kabarkan kehadirannya
Nyata terasa getaran dijiwa.
Bening air mata, berkaca-kaca
Bak air telaga yang memantulkan gemerlap bintang

Sendu merayu ditengah heningnya malam
Bercengkrama bersama titik-titik embun
Membongkar dinginnya kabut rahasia
Hingga kebenaran, datang  menjelang

Nada lahir dari ujung renungan
Mengalun bersama kesunyian
Menepis semua kebisingan
Mengalir diantara mimpi dan bayangan

Adalah cinta terbawa nyata diantara alunan nada
Rindu memecah sepi, lantang bergemuruh menderu hati
Menabur mimpi, dalam hasrat menggebu di ujung rindu
Dibalik nada-nada cinta, aku menemukanmu
3.2 Pemenggalan Puisi
Senandung Cinta
Khalil Gibran

Jiwa yang terkapar
/ nada rindu mengusik kalbu//
Nyanyian yang tiada pernah tergores tinta//
Nada kasih/ mengalir menembus sukma/
Menyentuh batin/ mengalirkan saying//

Nyanyian yang tiada pernah tergores tinta//
Sungguh.../betapa segala resah mendesah//
Bimbang/ mengguncang dalam ketidak-abadian//
Untuk siapa nada ini kan menyapa//

Di relung jiwa/ bersemayam segala rasa//
Terhempas risau,/ melayang hilang/
Menjelajah hati/ menjawab Tanya//
Hadir membayang dalam bayang-bayang//
Getar ujung jemari/ kabarkan kehadirannya//
Nyata terasa getaran dijiwa.//
Bening air mata,/ berkaca-kaca/
Bak air telaga
/ yang memantulkan gemerlap bintang//

Sendu merayu ditengah heningnya malam
//
Bercengkrama
/ bersama titik-titik embun//
Membongkar dinginnya kabut rahasia
//
Hingga kebenaran,
/ datang  menjelang//

Nada lahir dari ujung renungan
//
Mengalun bersama kesunyian
//
Menepis semua kebisingan
//
Mengalir diantara mimpi dan bayangan
//

Adalah cinta terbawa nyata diantara alunan nada
//
Rindu memecah sepi,
/ lantang bergemuruh menderu hati//
Menabur mimpi,
/ dalam hasrat menggebu di ujung rindu//
Dibalik nada-nada cinta,
/ aku menemukanmu//

3.3 Parafrase Puisi
Senandung Cinta
Khalil Gibran

Jiwa yang
(telah) terkapar (dalam) nada rindu (yang) mengusik kalbu
(dalam) Nyanyian yang tiada pernah (bisa) tergores (oleh) tinta
Nada kasih
(yang) mengalir menembus sukma
Menyentuh batin mengalirkan
(kasih) sayang

(dalam) Nyanyian yang tiada pernah (bisa) tergores (oleh) tinta
Sungguh...betapa segala
(rasa) resah mendesah
(ketika) Bimbang mengguncang (hati) dalam ketidak-abadian
Untuk siapa
(-kah) nada ini kan menyapa

Di relung jiwa
(telah) bersemayam segala rasa (gelisah)
Terhempas risau, melayang hilang
(kata-kata)
Menjelajah hati
(mencoba ) menjawab (sebuah) tanya
(hingga) Hadir membayang dalam bayang-bayang (-mu)
(terasa) Getar ujung jemari (ketika) kabarkan kehadirannya
Nyata terasa getaran
(hati) dijiwa (ini)
Bening air mata,
(terlihat) berkaca-kaca
Bak air telaga yang
(telah) memantulkan gemerlap (cahaya) bintang

Sendu merayu ditengah heningnya malam
(sunyi)
Bercengkrama bersama
(dengan) titik-titik embun
Membongkar
(rasa) dinginnya kabut (dalam) rahasia
Hingga kebenaran,
(akan) datang  menjelang

Nada
(telah) lahir dari ujung renungan (hati)
Mengalun
(indah) bersama kesunyian
Menepis semua
(yang menyebabkan) kebisingan
(sehingga) Mengalir diantara mimpi dan bayangan

(senandung cinta) Adalah cinta (yang) terbawa (ke dunia) nyata diantara alunan nada
Rindu
(mampu) memecah sepi, (hingga) lantang (terdengar) bergemuruh menderu (dalam) hati
Menabur mimpi, dalam hasrat
(yang) menggebu di ujung (rasa) rindu
Dibalik nada-nada cinta, aku
(berusaha) menemukanmu

3.4 Pembacaan Heuristik
Senandung Cinta
Khalil Gibran

Jiwa (
yang ada di dalam tubuh dan menyebabkan seseorang hidup) yang (telah) terkapar (dalam) nada rindu (yang) mengusik kalbu (pangkal perasaan batin)
(dalam) Nyanyian (ungkapan hati berupa sebuah lagu) yang tiada pernah (bisa) tergores (oleh) tinta
Nada kasih (yang) mengalir menembus sukma
Menyentuh batin (
perasaan hati) mengalirkan (kasih) sayang

(dalam) Nyanyian yang tiada pernah (bisa) tergores (oleh) tinta
Sungguh...betapa segala (rasa) resah mendesah
(ketika) Bimbang mengguncang (hati) dalam ketidak-abadian
Untuk siapa (-kah) nada ini kan menyapa (orang yang belum diketahui)

Di relung jiwa (telah) bersemayam segala rasa (gelisah)
Terhempas risau, melayang hilang (semua rasa)
Menjelajah hati (mencoba) menjawab (sebuah) tanya
(hingga) Hadir membayang dalam bayang-bayang (-mu)
(terasa) Getar ujung jemari (ketika) kabarkan kehadirannya ( orang yang disayang )
Nyata terasa getaran (hati) dijiwa (ini)
Bening air mata, (terlihat) berkaca-kaca
Bak air telaga yang (telah) memantulkan gemerlap (cahaya) bintang

Sendu merayu ditengah heningnya malam (sunyi)
Bercengkrama bersama (dengan) titik-titik embun
Membongkar (rasa) dinginnya kabut (dalam) rahasia (suatu perasaan yang dipendam)
Hingga kebenaran, (akan) datang  menjelang

Nada (telah) lahir dari ujung renungan (hati)
Mengalun (indah) bersama kesunyian
Menepis semua (yang menyebabkan) kebisingan
(sehingga) Mengalir diantara mimpi dan bayangan

(senandung cinta) Adalah cinta (yang) terbawa (ke dunia) nyata diantara alunan nada
Rindu (mampu) memecah sepi, (hingga) lantang (terdengar) bergemuruh menderu (dalam) hati
Menabur mimpi, dalam hasrat (yang) menggebu di ujung (rasa) rindu
Dibalik nada-nada cinta, aku (berusaha) menemukanmu
3.5 Pembacaan Hermeneutik
Bait I
      Jiwa yang terkapar nada rindu mengusik kalbu : penyair yang merindukan seseorang dan ingin mengungkapkannya lewat nyanyian
   nyanyian yang tiada pernah tergores tinta : akan tetapi nyanyian tersebut tak dapat dituliskan
nada kasih mengalir menembus  sukma : nyanyian itu hanya ada dalam hatinya
menyentuh batin mengalirkan sayang : hingga menyentuh batin dan selalu ada didalamnya kerinduan itu.
Bait I
Penyair ingin mengungkapkan bahwa perasaannya yang ingin disampaikan tidak dapat di wujudkan dalam suatu tulisan melainkan hanya mampu memendamnya di hati.
Bait II
      Nyanyian yang tiada pernah tergores tinta : memperjelas lagi bahwa nyanyian itu tidak dapat terlukiskan atau dituliskan
      sungguh.. betapa segala resah mendesah : hingga ia merasa resah karena perasaan yang tak dapat dilukiskan itu
      bimbang mengguncang dalam ketidak-abadian : mengetahui bahwa perasaan itu dapat berubah dan tidak abadi
untuk siapa nada ini kan menyapa : tidak mengetahui untuk siapa nyanyian yang tidak terlukiskan itu untuk siapa.
Bait II
Penyair menjelaskan kembali bahwa perasaannya tidak dapat diungkapkan melalui sebuah nyanyian yang dikarenakan bahwa perasaannya bimbang atas apa yang dirasakan.
Bait III
      Di relung jiwa bersemayam segala rasa : merasakan bimbang dan resah yang bercampur aduk dalam hatinya
      terhempas risau melayang hilang : akhirnya rasa itupun mulai menghilang
      menjelajah hati menjawab tanya : menghilang karena ia mulai mengetahui jawaban mengapa ia bisa bimbang dan resah seperti itu
hadir membayang dalam bayang-bayang: munculah seseorang dalam hatinya
Bait III
Rasa bimbang yang dirasakan penyair mulai hilang dikarenakan ia telah menemukan sang pujaan hatinya.
Bait IV
      Getar ujung jemari kabarkan kehadirannya : ia pun mulai menyadari siapa seseorang itu
      nyata terasa getaran di jiwa: semakin lama semakin jelas siapa seseorang itu dan hatinya semakin berdebar
      bening air mata berkaca-kaca: karena perasaan cintanya yang kuat, ia sampai menitikan air mata
bak air telaga memantulkan gemerlap bintang : dengan air mata itu iya merasa lebih melihat jelas siapa yang ada dalam hatinya itu.
Bait IV
Penyair telah menyadari siapa orang yang membuat hatinya berdebar hingga akhirnya ia mampu menitihkan air mata bahagia.
*       
Bait V
      Sendu merayu di tengah heningnya malam : ketika ia mengingat seseorang itu ia menjadi merasa sedih, seakan-akan cintanya itu telah pergi
      bercengkrama bersama titik-titik embun : kesedihan itu semakin bertambah
      membongkar dinginnya kabut rahasia : seakan memiliki rahasia yang belum terungkap hingga cintanya itu telah pergi
hingga kebenaran datang menjelang : ia hanya menunggu waktu hingga rahasianya itu akan terungkap suatu saat.
Bait V
Penyair merasa orang yang dicintainya telah hilang karena saat itu ia tak mampu mengungkapkan perasaannya dan ia hanya bisa menunggu waktu untuk mengungkapkan perasaan yang ada dalam hatinya.
Bait VI
      Nada lahir dari ujung renungan : ia menyadari bahwa nyanyian berasal dari renungan dan apa yang ia rasakan
      mengalun bersama kesunyian : nyanyian datang ketika suasana hati sedang sepi dan sunyi
      menepis semua kebisingan: nyanyian itu akan datang untuk mengisi kesunyian hati
mengalir diantara mimpi dan bayangan: nyanyian itu akan datang dalam mimpi dan menggambarkan sesuatu.
Bait VI
Penyair hanya bisa merenungi perasaannya yang disampaikan lewat sebuah senandung cinta dalam kesunyian dan berharap sebuah mimpi akan mengantarkan pada sesuatu yang di cintainya.
Bait VII
      Adalah cinta terbawa nyata diantara alunan nada: nyanyian itu berhubungan erat dengan perasaan cinta
      rindu memecah sepi, lantang bergemuruh menderu hati: nyanyian itu yang menemani kesepian penulis yang merasakan kerinduan
      menabur mimpi, dalam hasrat menggebu di ujung rindu: dengan nyanyian itu ia memiliki harapan baru
dibalik nada-nada cinta aku menemukanmu : dimulai dari nada yang tak terlukiskan itulah ia mulai mencari siapa yang ia cintai dan menemukannya
Bait VII
Penyair menyampaikan bahwa dari nada yang dituliskannya ia mulai menemukan harapan yang baru dan menemukan apa yang selama ini dicarinya.

3.6 Matrik dan Model
Jiwa yang terkapar nada rindu mengusik kalbu  ↔ mengungkapkan bahwa penyair merindukan                           seseorang dan ingin disampaikan lewat sebuah lagu
Nyanyian yang tiada pernah tergores tinta  ↔ namun sebuah nyanyian itu tidak dapat dituliskan
Nada kasih mengalir menembus sukma  ↔ nada / nyanyian itu hanya ada dalam hatinya
Menyentuh batin mengalirkan sayang  ↔ hingga mampu menyentuh perasaan sang penyair
Nyanyian yang tiada pernah tergores tinta ↔ penyair ingin menjelaskan kembali bahwa nyanyian itu tidak dapat dituliskan
Sungguh...betapa segala resah mendesah ↔ merasakan kegelisahan atas apa yang dirasakannya
Bimbang mengguncang dalam ketidak-abadian ↔ kebimbangan atas perasaannya tidak akan abadi
Untuk siapa nada ini kan menyapa ↔ penyair tidak mengetahui untuk siapa nyanyian yang tidak dapat dilukiskannya itu
Di relung jiwa bersemayam segala rasa ↔ dalam hatinya merasakan kebimbangan dan keresahan
Terhempas risau, melayang hilang ↔ penyair merasakan kegelisahannya itupun menghilang
Menjelajah hati menjawab tanya ↔ disini penyair sudah mulai mengetahui jawaban atas apa yang dirasakan oleh hatinya
Hadir membayang dalam bayang-bayang ↔ sosok yang ditunggu telah hadir dalam hatinya
Getar ujung jemari kabarkan kehadirannya ↔ penyairpun merasakan kehadiran orang yang telah menggetarkan hatinya
Nyata terasa getaran dijiwa ↔ hatinya mulai berdebar
Bening air mata, berkaca-kaca ↔ penyair mulai menitikan air mata karena kebahagiaannya telah mengetahui siapa yang disintainya
Bak air telaga yang memantulkan gemerlap bintang ↔ semakin jelas siapa yang dicintainya
Sendu merayu ditengah heningnya malam ↔ penyair merasa sedih
Bercengkrama bersama titik-titik embun ↔ kesedihannya semakin terasa
Membongkar dinginnya kabut rahasia ↔ penyair mempunyai rahasia yang ingin diungkapkannya
Hingga kebenaran, datang  menjelang ↔ namun hanya menunggu waktu yang akan menjelaskan semuanya
Nada lahir dari ujung renungan ↔ nada cinta itu lahir dari renungan yang dirasakan penyair
Mengalun bersama kesunyian ↔ nada itu ada ketika hati sedang merasa sunyi sepi
Menepis semua kebisingan ↔ nada itu akan datang untuk menyejukkan hati
Mengalir diantara mimpi dan bayangan ↔ hingga terbawa mimpi hingga menggambarkan sesuatu
Adalah cinta terbawa nyata diantara alunan nada ↔ nyanyian ini merupakan ungkapan perasaan hati penyair
Rindu memecah sepi, lantang bergemuruh menderu hati ↔ kerinduan yang dirasakan menemani sang penyair disaat sepi
Menabur mimpi, dalam hasrat menggebu di ujung rindu ↔ dengan nyanyian itu penyair mulai menemukan hasrat yang baru
Dibalik nada-nada cinta, aku menemukanmu ↔ dari nada yang tidak dapat dituliskan oleh penyair, ia berusaha mencari dan menemukan orang yang dicintainya

3.7 Varian
          Varian dalam puisi ini tergambar keinginan penulis untuk berusaha mencari sesuatu yang membuatnya bahagia, dalam hal ini adalah orang yang dicintainya. Dalam larik puisi ini bimbang mengguncang dalam ketidak-abadian untuk siapa nada ini kan menyapa penulis merasakan kebimbangan yang begitu mendalam hingga merasa resah. Tak tahu untuk siapa perasaan yang dirasakannya sekarang, kebimbangannya selalu menyelimuti dan tak pernah tahu sampai kapan terjadi. Hingga akhirnya ia menorehkan kembali kata – kata menabur mimpi, dalam hasrat menggebu di ujung rindu dibalik nada-nada cinta, aku menemukanmu dan berarti ia hanya mampu memendam apa yang dirasakan ketika mengetahui bahwa ia telah menemukan seseorang yang ternyata selama ini dinantikannya, tak berani dalam mengungkapkan apa yang dirasakanya hanya itulah yang dilakukan.
Sebenarnya ketika merasakan dan menemukan apa yang telah membuat jatuh cinta, merasa tedu dan nyaman bersamanya sebaiknya utarakan saja isi hati yang apa adanya, karena cinta merupakan anugerah terindah dan tak akan bisa ditebak kedalamannya. Menyembunyikan apa yang dirasakan dalam hati hanya akan menyakitkan diri sendiri, karena cinta merupakan misteri yang sulit dimengerti dan dipahami. Jadi ungkapkanlah apa yang dirasakan oleh hati, sebelum semua terlambat dan menyesal dikemudian hari.

.

























BAB IV
PENUTUP

4.1  Simpulan
Puisi Senandung Cinta karya Kahlil Gibran ini mencoba menorehkan suatu perasaan yang tak mampu tersampaikan dengan baik. Pemilihan kata yang begitu indah dalam tiap bait puisi membuat puisi ini sayang untuk diabaikan. Puisi ini dianalisis melalui intepretasi semiotik riffatere. Pemaknaan puisi ini menggunakan teknik pembacaan heuristik dan hermeneutik. Hasil analisis puisi ini kemudian disusun dalam bentuk sebuah makalah untuk memenuhi persyaratan ujian akhir semester genap.
4.2  Saran
Memiliki sebuah rasa yang menggetarkan hati janganlah hanya dipendam sseorang diri, hendaknya diungkapkan ketika sudah mengetahui untuk siapa rasa itu tertuju. Terpendamnya perasaan yang ada hanya akan menyiksa diri sendiri, membuat hati dan hidup menjadi bimbang dan resah. Ungkapkan saja apa yang sebenarnya telah terasa dalam hati, sehingga mampu mengetahui bahwa sebenarnya apa yang terjadi itu tidak pernah salah.














DAFTAR PUSTAKA

Riffaterre, Michael. 1978. Semiotics of Poetry. Bloomington: Indiana University Press.
Aminuddin.1995. Pengantar Apresiasi Karya Sastra. Bandung: Sinar BaruAlgesindo.
Barthes, Roland. 1981. Elements of Semiology. New York : Hill and Wang
Barthes, Roland. 1975. The Pleasure of the Text. New York: Hill and Wang
Berger, Arthur Asa. 2005. Tanda-Tanda dalam Kebudayaan Kontemporer,Sebuah Pengantar Semiotika (Terjemahan dari: Signs in Contemporary Culture, An Introduction to Semiotics), Jogja: Tiara Wacana.
Blackwell, Basil. 1986. Feminist Literary Theory: A Reader. Oxford: Basil Blackwell Inc.
Buchbinder, David. 1991. Contemporary Literary Theory and the reading of
Poetry. Australia: The Company of Australia PTY. Ltd.
Chandler, Daniel. 2007. Semiotics: The Basic. New York: Rouledge.
Cole, Camille & Andrew Smithberger. 1931. On Poetry. New York: Doubleday,
Doran & Company, Inc.
Davis, Robert Con. 1986. Contemporary Literary Criticism: Modernism Through
Poststructuralism. London: Longman Inc.
De Beauvoir, Simon. 2003. The Second Sex. Yogyakarta: Pustaka Pelajar
Eco, Umberto. 1979. A Theory of Semiotics. Bloomington: Indiana University
Press
Fokkema, DW. 1977. Theories of Literature in the Twentieth Century. London: C.
Hurst & Company
Goldmann, Lucien. 1981. Method in the Sociology of Literature. Oxford: Basil
Blackwell Inc
Hawkes, Terence. 1978. New Accents Structuralism and Semiotics. London:
Methuen&Co Ltd.
Holman, Hugh. 1981. A Handbook to Literature. Indianapolis: Bobbs-Merrill
Educational Publishing
Jabrohim(ed). 2001. Metode Penelitian Sastra. Yogyakarta: PT. Hanindita Graha ,
Widia.
Jacobson, Roman. 1960. Lingusitics and Poetics. Cambridge: M.I.T. Press
Jauss, Hans Robert. 1982. Toward an Aesthetic of Reception. Minneapolis:
University of Minnesota Press
Jacobson, Roman. 1960. Linguistics and Poetics. Cambridge: M.I.T. Press
Junus, Umar. 1985. Resepsi Sastra: Sebuah Pengantar. Jakarta: PT. Gramedia
Perrine, Laurence. 1969. Sound and Sense: An Introduction to Poetry. America:
Hartcourt, Brace & World, Inc.
Pradopo, Rachmat Djoko. 1991. Pengkajian Puisi. Yogyakarta: Gadjah Mada
University Press
____________________. 1987. Kritik Sastra Indonesia Modern. Yogyakarta:
Gadjah Mada University Press
Prihatmi, Th. Sri Rahayu. 2004. Buku Pedoman Penulisan dan Konsultasi Tesis.
Semarang: Proram Magister Ilmu Susastra Undip
Ratna, Nyoman Kuta. 2006. Teori, Metode, dan Teknik Penelitian Sastra .
Yogyakarta: Pustaka Pelajar
Scholes, Robert. 1978. Structuralism in Literature. New Heaven and London:
Yale University
Selden, Raman. 1986. A Reader’s Guide to Contemporary Literary Theory.
Sussex: The Harvester Press.
The Norton Anthology of American Literature. Third Edition volume 2. 1989.
New York: W.W. Norton&Company, Inc.
Waluyo, Herman J. 1987. Teori dan Apresiasi Puisi. Jakarta: Erlangga
Wardoyo, Subur. 2005. Semiotika dan Struktur Narasi. Kajian Sastra. Vol 29.
Semarang
Worton and Still. 1991. Intertextuality: Theories and practice. Manchester:

Manchester University Press

- Copyright © Erlin Forstavi - Date A Live - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -