AKU ADALAH KEKASIH BAPAKKU
By : Unknown
AKU ADALAH KEKASIH
BAPAKKU
Bapak
saya seorang tentara. Pada tahun 1990 bapak melaksanakan tugas yaitu AMD ( Abri
Masuk Desa ) pada saat itu, kalau sekarang namanya TMMD ( Tentara Manunggal
Membangun Desa )selama 21 haridan bapak saya pada waktu itu masih berstatus
bujangan dengan pangkat Prada ( Prajurit dua ).
Pada
saat itu bapak saya berkenalan dengan seorang gadis bernama Erlin Vionita.
Selama 21 hari itulah bapak saya dan gadis yang bernama Erlin Vionita menjalin
hubungan. Namun selama hubungan itu berlangsung orang tua dari Erlin Vionita
tidak merestuinya, karena katanya kalau kamu punya suami tentara akan sering
ditinggal tugas dan hidup sengsara karena gajinya yang sedikit. Akhirnya karena
hubungan itu tudak mendapat restu, hubungan itupun putus.
Di tahun 1992
bapak saya bertemu dengan gadis bernama Mugiasih. Pada saat itu gadis yang
bernama Mugiasih ini ikut kakaknya yang punya suami tentara yang berdinas satu
kesatuan di Kompi Senapan A Yonif 408 yang berada di Kecamatan Weleri, Kabupaten
Kendal, Jawa Tengah. Dari sebuah perkenalan dan seringnya bertemu itulah
akhirnya terjadi hubungan yang serius dam akhirnya menikah.
Pada tahun
1993tepatnya tengah malam tanggal 1 Oktober 1993 lahirlah bayi perempuan yaitu
saya. Saya dilahirkan pada waktu bapak masih menjalani latihan dalam rangka
akan berangkat tugas di Timor – Timur. Satu minggu saya dilahirkan, bapak baru
saja dapat ijin untuk pulang itupun hanya sehari saja untuk melihat bayi
kecilnya yaitu saya. Bapak kemudian memberi nama bayinya yaitu
Erlin
Fortunela Stavanavionita
Erlin diambil
dari nama kekasih bapak yang waktu itu tidak direstui oleh orang tuanya. Ini
diambil karena untuk mengingat dan mengenang agar bisa selalu dekat.
Fortunela ada
dua makna yaitu
Fortuna : dewi keberuntungan
Fortu : karena bapak akan berangkat ke bekas jajahan
Fortugis yaitu Timor – Timur.
Stavanavionita
dari kata :
S :
Senin Selasa
T :
Tidak
A :
Ada
V :
Valentine ( kasih sayang )
A :
Antara
N :
Nardi
A :
Asih
Jadi Stavana itu
sendiri kalau diartikan bahwa Senin dan selasa tidak ada kasih sayang antara
Nardi dan Asih, karena pada waktu itu bapak melihat aku hanya satu hari
kemudian berangkat tugas pada hari itu.
Vionita adalah
nama belakang dari Erlin kekasih bapak tadi.
Jadi itulah asal
– usul nama saya Erlin Fortunela Stavanavionita.
BIDADARI YANG TERABAIKAN !
By : Unknown
BIDADARI YANG TERABAIKAN !
Oleh Erlin
Fortunela S
Malam yang dingin tak menghentikan
langkah wanita cantik bernama lengkap Via Permata untuk mencari nafkah dan menghibur dirinya. Yah,
Via adalah wanita yang bekerja di sebuah klub malam di kota besar ini, Via
merupakan wanita tercantik diantara teman – temannya, Via juga dulu sempat
dinobatkan sebagai bunga desa di tempat tinggalnya sebelum para warga
mengetahui pekerjaan Via adalah sebagai wanita pelayan lelaki hidung belang.
Semalam Via mampu mendapat uang minimal 5 juta untuk setiap kali melayani
lelaki yang membutuhkan kehangatan tubuhnya. Tak hanya parasnya yang cantik,
namun Via juga memiliki tubuh yang sexi, ia selalu merawat tubuh dan menjaga
penampilannya agar tetap terlihat menarik di hadapan kaum adam. Kehidupannya
selama 24 tahun ini memang tak jauh dari dunia malam, sebab orangtuanya
merupakan pemilik salah satu klub malam yang tersohor, namun kini ia sebatang
kara dan harus mencari uang utnuk biaya kehidupan sendiri karena orangtuanya
meninggal dalam kecelakaan tunggal 5 tahun yang lalu.
“Via sayang, nanti sama Om Ardi yaa,
Om butuh kehangatan kamu nih…” terdengar suara berbisik dibelakang telinga Via,
hangat dan sedikit geli rasanya.
“Iya Om malam ini Via sepenuhnya
milik Om deh, tapi Via mau uangnya juga ditambah ya Om soalnya Via butuh banget
uang nihh.. .” memegang tangan Om Ardi dengan lirikan yang mesra Via merayu.
“Tenang aja Via, 10 juta cukup ??
atau 15 juta ?? asal kamu mau nemenin Om”
“15 juta, deal !!”
“Oke, kita have fun sekarang yaa, Om
sudah pesan penginapan dengan fasilitas VVIP untuk kita” ajak Om Ardi sambil merangkul pundak
Via.
Hanya dengan senyuman manis
menandakan bahwa Via sepenuhnya milik Om Ardi saat malam itu. Via memang tidak
mau jika hanya dibayar dengan uang sedikit karena kebutuhannya sebagai wanita
pasti banyak, ya ke salon, belanja dan lain – lain. Via tak mau melayani lelaki
jika tak berduit. Malam itu Via sungguh menikmati fasilitas yang diberikan Om
Ardi kepadanya, Via tak memperdulikan anggapan para tetangganya nanti jika dia
pulang waktu matahari mulai terbit.
Ӂӂӂ
Siang itu terdengar bunyi handphone
Via, ia beranjak bangun dan mulai menerima telfon dari seseorang yang tak
dikenalnya. Ya ternyata itu lagi – lagi adalah omelan dari istri para lelaki
yang ingin dihangatkan tubuhnya oleh Via. Via sudah biasa mendapat omelan dan cibiran seperti itu. Para tetanggapun
sering mengolok – oloknya, namun sedikitpun tak pernah ditanggapi oleh Via.
Via membalik kalender yang terpajang
didinding kamarnya, ia menghitung tanggal – tanggal yang ada, harusnya 2 minggu
yang lalu adalah waktu Via datang bulan, astaga Via terlambat 2 minggu.
“Astaga , ini nggak mungkin, aku
selalu cek sebelum melakukan suatu hubungan, kenapa ini bisa terjadi, nggak
mungkin kan aku hamil, aku harus gimana sekarang ??” Via mulai kebingungan dan
memutuskan untuk segera pergi ke dokter. Akhirnya Via mulai mengetahui jika dia
hamil, tapi dengan siapa ia tak tahu, banyak yang tidur dengannya. Via mulai
pergi ke klub dan meminta pertanggungjawaban kepada semua lelaki yang pernah
tidur dengannya tapi tak satupun yang mau menikahi Via karena mereka sudah
meiliki keluarga masing – masing. Kehancuran dirinya mulai ia rasakan saat ini,
betapa Via merasa terasingkan dari dunia ini, tak ada satupun lelaki yang mau
menikahinya. Namun tanpa disadari datang teman lama Via bernama Aditya Sanjaya,
pria culun yang sejak SMA naksir banget sama Via, Via mempunyai ide untuk
membujuk Adit supaya mau menikah dengannya. Pernikahanpun tidak diadakan dengan
pesta cukuup sederhana saja.
Beberapa
bulan kemudian setelah pernikahan berlangsung lahirlah seorang anak perempuan
yang sangat cantik, namun sedikitpun hati Via tak bangga ataupun gembira, hanya
Adit yang merasakan kebahagiaan, yaa Adit seorang manager sebuah restoran
terlaris di kotanya. Pemberian namapun hanya Adit yang memberikan, QUEENZA
AILEND NABILA nama yang cantik untuk bayi cantik dari seorang wanita cantik
pekerja malam.
Ӂӂӂ
Tujuh
tahun berlalu sedikitpun Via tak pernah memberikan kasih sayang kepada Ailend.
Via selalu menganggap Ailend sebagai pembawa sial karena kehadiran Ailend
pekerjaan Via terhambat karena bentuk tubuhnya mulai tidak karuan. Via kini
hanya bisa berdiam diri dirumah dan sesekali hang out bersama teman – temannya.
Ailend tak pernah protes meski diperlakukan tidak enak dari ibunya. Ayahnya
sibuk bekerja hingga ia terkadang merasa kesepian apalagi dengan bisikan
tetangga yang mengatakan bahwa Ailend bukan anak dari Aditya, Ailend adalah
anak haram dari hubungan ibunya dengan beberapa lelaki, disekolahpun teman –
temannya juga sering mengejeknya. Ailend hanya bisa menangis dan memendam dalam
hati semua yang pernah didengarnya, ia ingin bertanya pada ibunya namun takut
menyinggung perasaan sang ibu.
“Ayah,
apa bener Ailend ini bukan anak ayah ? temen Ailend dan tetangga selalu
berbicara kalau Ailend bukan anak ayah…” tatapan mata yang sedikit meneteskan
air mata itu membuat Adit kasihan terhadap Ailend.
“Ailend
anak ayah, Ailend jangan dengar kata orang yaa, mereka itu salah dan nggak tau
apa – apa, Ailend sayang ayah kan, jadi Ailend harus percaya sama ayah yaa…”
pelukan Adit membuat Ailend merasa tenang, hanya kehangatan pelukan ayahnya
yang bisa ia rasakan.
“Yah,
boleh Ailend tanya sesuatu ?”
“Tanya
apa sayang ?”
“Kenapa
ibu nggak pernah peluk Ailend seperti ayah peluk Ailend, kenapa ibu selalu
benci sama Ailend yah…”
“Ibu
nggak benci sama Ailend, mungkin ibu sedang ada pikiran atau kecapean, jadi
Ailend harus mengerti yaa sayang…”
Senyuman
manis Ailend membuat hati Adit sedikit gembira. Adit terkadang juga bingung
terhadap istrinya yang tak pernah memperhatikan anaknya sejak kecil. Setahu
Adit Via wanita yang baik terhadap siapapun, Adit juga merasa bingung dan
memutuskan untuk segera berangkat bekerja.
Ӂӂӂ
“Ailend, cepat kamu bersih – bersih
rumah, halaman rumah kotor, dapur berantakan, cucian masih numpuk, kamu ngapain
aja sih seharian nggak kerja, kamu pasti main kan !!!” ucap Via sambil mencubit
tangan Ailend.
“Nggak bu, Ailend tadi ngerjain
tugas sekolah…”menundukan kepala dan tubuh gemetar Ailend menghadapi sikap
ibunya yang selalu seperti ini setiap harinya jika ayahnya tidak ada di rumah.
“Alasan saja, kamu itu pemalas yaa
!!!” sambil menyeret tubuh gadis kecil itu Via membawa Ailend ke dapur untuk
membersihkan semua yang berantakan dan kotor. Ailend hanya bisa menangis sambil
menuruti perintah ibunya. Ailend tak mengerti kenapa ibunya sekejam ini, tak
seperti ibu pada umumnya yang selalu menyayangi anaknya. Tiba – tiba Ailend
merasa pusing dan tubuhnya lemas, ia mencoba berjalan mencari ibunya, namun
ibunya tak mau tahu apa yang terjadi. Pingsan, itu yang dialami Ailend didepan
ibunya, tapi sedikitpun tak tergugah hati seorang ibu melihat anaknya seperti
itu. Ketika tersadar Ailend tetap berada diposisi awal ia terjatuh dan pingsan,
Ailend mencoba untuk bangun dan mencari ibunya, namun tak ditemukannya. Ailend
segera mengambil segelas air dari lemari es kemudian melanjutkan pekerjaannya
yang tertunda tadi.
“Eh, udah sadar ! Nanti kamu setrika
baju – baju ditumpukan itu, secepatnya selesaikan !!” bentak Via terhadap
anaknya.
“Iya bu…” Ailend hanya hanya bisa
menuruti perkataan ibunya, sebab jika tidak ibunya akan melakukan hal yang
lebih kejam kepadanya.
Ailend tak pernah mengeluh atas apa
yang dilakukan ibunya kepadanya. Hingga suatu hari Adit melihat Ailend sedang
mencuci baju, kebetulan Adit pulang cepat dan tak mendapati Via dirumah. Adit
terkejut jika ternyata selama ini Ailend yang mengerjakan pekerjaan berat itu.
Kemarahan Adit terhadap Via memuncak saat melihat wajah Ailend yang pucat dan
badannya yang panas.
“Sayang, kenapa kamu kerjain kerjaan
ini, kamu kan masih kecil, badan kamu juga pucat dan panas banget, kita ke
dokter yuk…” ucap Adit kepada Ailend dengan kelembutan.
“Nggak usah ayah, Ailend masih kuat
kok buat kerjain ini, Ailend kan tiap hari melakukan semua ini Ayah, apa ayah
mau bantuin Ailend ?” dengan senyum polos anak kecil Ailend menatap ayahnya.
“Memang siapa yang menyuruh kamu
melakukan semua ini nak..”
“Ibu yang meminta Ailend untuk
mengerjakan semuanya, ayah jangan marah sama ibu yaa, soalnya Ailend tahu ibu
menyuruh Ailend seperti ini supaya Ailend mandiri ayah…”
“Tapi Ailend, ibu kamu keterlaluan,
biar ayah yang bilangin nanti kalau nggak boleh nyuruh Ailend kerja berat
seperti ini biar Ailend nggak kecapean yaa sayang…”
“Nggak usah ayah, Ailend ikhlas kok
lakuin semua ini, Ailend sayang ibu, jadi Ailend nggak mau buat ibu sedih
karena nggak nurut sama ibu…”
Tiba – tiba Ailend pingsan setelah
berkata seperti itu ke ayahnya. Adit segera membawanya ke rumah sakit.
Setibanya dirumah sakit dokter segera menanganinya dan setelah diperiksa
ternyata Ailend mengalami kanker otak stadium lanjut. Adit terkejut mendengar anaknya
divonis seperti itu oleh dokter. Via yang tiba – tiba datang langsung mendapat
omelan dari Adit. Adit sungguh kecewa dan kesal terhadap Via, ia tak menyagka
wanita yang selama ini sangat dicintainya ternyata memiliki sikap yang busuk
dalam hatinya. Via hanya tenang dan
tidak merasa bersalah sedikitpun mendengar ucapan Adit, bahkan Via
sangat santai ketika mengetahui anaknya menderita kanker otak stadium lanjut.
Via hanya cengar – cengir sendiri mengetahui semuanya, sedangkan Adit tanpa
terasa menetes air dari kedua bola matanya. Adit sangat terpukul mendengar
berita ini, tubuhnya lemas tak berdaya melihat anaknya terbaring di rumah sakit
dengan penyakit seperti itu. Kekesalan Adit semakin memuncak ketika Via
sedikitpun tak memperdulikan Ailend.
“Gimana perasaan kamu sekarang, apa
kamu puas melihat Ailend seperti ini, apa kamu merasa bangga sudah membuat
Ailend mengalami semua ini, hahhh jawab Via, jawab !!!” bentak Adit sambil
memegang pundak Via, wanita yang dicintai dan menyiksa bidadari kecilnya selama
ini.
“Kamu itu nggak usah keterlaluan
gitu, biarin aja anak itu sakit, aku aja ibunya nggak peduli, kamu yang bukan
ayahnya sok peduli !!!” celetuk Via tanpa sadar.
“Apa kamu bilang, aku bukan ayahnya
??? Lalu siapa sebenarnya ayah Ailend, kamu bercanda kan Via, disaat seperti
ini kamu masih bisa bercanda, dasar wanita gila !!”
“Aku nggak bercanda, mungkin ini
saatnya, menutupi lagi juga sudah nggak mungkin, kamu itu bukan ayah kandung
Ailend, aku hamil sebelum menikah sama kamu, aku sendirii juga ngga tau Ailend
itu anak siapa, aku terlalu banyak tidur dengan laki – laki, saat aku minta
pertanggungjawaban semua menolak, dan akhirnya kamu datang saat waktu yang
tepat, jadi aku bisa manfaatin cinta kamu untuk menjadi ayah dari bayi yang aku
kandung agar aku tidak dilecehkan tetangga, apa kamu mengerti sekarang ???”
ucapan dengan santai itu keluar dengan lancar dari mulut Via, tak ada
penyesalan yang terlihat dari raut wajahnya.
“Aku nggak nyangka Vi, kamu tega
banget sama aku dan Ailend, kamu nggak apa – apa lakuin ini ke aku, tapi Ailend
nggak sepantasnya kamu siksa seperti itu, Ailend nggak salah Vi, tapi kelakuan
kamu yang salah !”
“Sudahlah kamu jangan sok baik,
Ailend itu membawa sial buat aku, jadi buat apa aku harus baik sama dia !”
“Keterlaluan kamu Vi..” Adit
berjalan menuju ruang perawatan Ailend sesampainya di ruang perawatan Ailend,
Adit melihat Ailend sedang menangis.
“Ailend sayang kamu kenapa kok
nangis ?”
“Ailend nggak apa-apa kok yah,
emangnya Ailend sakit apa ?”
“Ailend Cuma kecapean kok”
Setelah lama berbincang-bincang
Via pun datang, tetapi ia tak mendekati Ailend sedikitpun. Via hanya berjarak 3
meter dari tempat tidur Ailend, ia merasa Ailend hanya tambah merepotkan dan
menambah beban hidupnya.
“Cepat
kemas-kemas barangmu lalu pulang, pekerjaan di rumah sudah banyak !”
“Iya
bu ?”
“Kamu
ini gimana Vi, Ailend kan masih sakit !” Celetus Adit.
“Ayah,
Ailend kan udah nggak apa-apa, katanya tadi Ailend hanya kecapean lagi pula
kalau Ailend kelamaan dirumah sakit nanti uang ayah habis, benar kata ibu kalau
Ailend harus cepat pulang nanti kasihan ibu kalau harus beresin rumah, ibu
nanti capek ayah, ibu kan seperti ini karena sayang sama Ailend, ibu nggak mau
Ailend manja dan nggak bisa apa – apa, ibu kan baik mengajari Ailend mandiri ayah”
jawab Ailend dengan penuh kelembutan.
“Kamu
dengar kan apa kata Ailend, dia aja nggak protes kok aku suruh pulang, kenapa
kamu yang ngeyel Dit.. Ayo Ailend cepat kemasi barangmu !” Bentak Via.
“Iya
bu, Ailend akan beresin barang – barang Ailend…” dengan wajah yang masih pucat
Ailend mencoba beranjak dari tempat tidur.
“Ailend
sayang, kamu istirahat saja yaa disini, kata dokter tadi kamu nggak boleh kerja
yang berat, kamu harus lebih banyak istirahat sayang…” Adit beranjak dari
tempat duduk dan mencoba mencegah Ailend untuk membereskan barang – barangnya.
“Nggak
apa – apa kok yah, Ailend udah kuat, Ailend juga udah sehat, Ailend kangen
rumah, Ailend nggak mau tidur disini yah…”
“Ailend
sayang, kamu sayang sama Ayah kan ? Ayah minta Ailend untuk beberapa waktu
tidur disini dulu ya sayang…” minta Adit sambil menggendong anaknya yang
terlihat pucat itu, Adit sedikit meneteskan air mata karena tak tahan dan tak
sanggup menerima kenyataan yang terjdi saat ini.
“Ayah,
Ailend nggak mau ngrepoti ayah dan ibu, Ailend kuat kok yah…”
‘Ahhh,
udah ah nggak usah sok drama, cepat ayo pulang, nggak bisa diajak cepat ya
kalian, dasar pembawa sial !!!” terdengar suara keras dan kasar memecah telinga
Adit, yaa itu suara Via.
“Tuh
kan yah, ibu nyuruh kita cepat pulang, itu tandanya ibu mengajari Ailend untuk
tepat waktu, ibu itu baik ayah, ibu selalu memberikan perhatian ke Ailend, ibu
selalu mengajarkan Ailend untuk menjadi anak yang kuat dan tegar, yang tidak
durhaka ayah” kepolosan Ailend dengan ucapan itu membuat hati Adit menangis
haru, anak cantik berhati malaikat ini diabaikan begitu saja oleh Via, dimana
hati Via hingga ia tak melihat sosok bidadari kecilnya yang membutuhkan kasih
sayang dan perhatian.
“Ya
sudah ayah bantu mengemasi barangnya ya sayang…” menatap bidadari kecil yang
kini bermuka pucat Adit merasa bersalah karena tak bisa melindungi malaikat
kecilnya.
“Iya
ayah, terimakasih” jawab Ailend polos.
“Sudah
cepat bereskan jangan banyak bicara !!!” Bentak Via kasar.
Adit
membantu Ailend untuk segera membereskan dan cepat pulang. Adit tak tega
melihat Ailend menderita seperti ini, meski Adit mengetahui bahwa Ailend bukan
anak kandungnya, namun Adit sudah terlanjur sayang kepada Ailend seperti anak
kandungnya sendiri.
Ӂӂӂ
Siksa terus dilakukan oleh Via
terhadap Ailend, Via ternyata sudah beku hatinya karena kelahiran Ailend,
sedikitpun tak ada rasa sayang dari Via untuk anak yang telah dilahirkannya
itu. Ailend pun hanya bisa menurut kepada ibunya karena Ailend berfikir bahwa
ibunya seperti ini karena menyayanginya dan tak ingin menjadikan Ailend anak
yang pemalas. Ailend selalu mengerti akan sikap Via terhadapnya.
“Ailend, cepat kamu setrikain baju –
baju ibu di dalam lemari, semuanya tidak rapi, kamu beresin semua, kalau tidak
kamu nggak dapat jatah makan pagi ini !!” teriak Via dari dalam kamar menyuruh
Ailend untuk bekerja kembali setelah sehat badannya.
“Ibu tapi Ailend lapar, dari tadi
malam Ailend belum makan bu…” Ailend kesakitan memegang perutnya yang
keroncongan.
“Heh, aku nggak mau tahu, kamu lapar
ataupun apa , kamu harus lakuin semua yang ibu suruh, jangan males, masih kecil
males kalau udah gede mau jadi apa kamu !!!” bentak Via sambil beranjak menuju
Via dan mencubit lengannya.
“Iya bu, Ailend akan lakuin yang ibu
suruh” dengan berjalan pelan Ailend menuju lemari dan mengambil baju yang ada
dikamar ibunya.
Selalu setelah Ailend selesai
melakukan pekerjaannya, Via menyuruhnya mengerjakan hal yang lain. Via tidak
pernah merasa sedikit kasihan terhadap Ailend. Beberapa perkerjaan rumah
selesai namun Ailend tudak juga diberi makan oleh Via. Ailend memintapun tak
pernah dikasih, dan tiba – tiba Ailend pingsan kembali. Via beberapa kali mencoba
membangunkan Ailend, namun Ailend tak juga bangun dari pingsannya. Via menelfon
Adit untuk segera pulang dari kerjanya.
“ Heh Dit, cepet pulang, anak sialan
ini pingsan lagi, ngerepotin aja bisanya”
“Iya Vi, aku pulang sekarang…”
tampak kecemasan terlintas dalam suara Adit.
Sesampai dirumah Adit segera
menggendong dan membawa Ailend ke rumah sakit. Via menemani dengan wajah yang
cuek dan tak sedikitpun cemas. Beberapa kali dokter memeriksa kondisi Ailend,
namun tetap saja sama. Dokter sudah memperingati Adit bahwa Ailend tidak boleh
terlalu capek dan harus menjaga kesehatannya namun Via selalu saja menyuruh
Ailend untuk melakukan tugas berat. Dokter memvonis Ailend meninggal sebelum
dibawa ke rumah sakit, jika Ailend bisa dibawa kerumahsakit lebih cepat mungkin
masih bisa diselamatkan. Mendengar berita itu hati Adit menangis, Adit telah
menyayangi Ailend seperti anak kandungnya tapi kenapa harus Ailend bidadari
kecil yang tak berdosa itu secepat ini dipanggil oleh Sang Kuasa. Adit
menyalahkan Via atas kematian Ailend, namun Via sedikitpun tidak mau mendengar
apa yang dikatan Adit. Mereka membawa tubuh Ailend pulang untuk dimakamkan.
Proses pemakaman pun Via tak sedikit terbuka hatinya. Hingga suatu hari Via
menemukan sebuah catatan dikamar Ailend.
Ibu,
aku menyayangimu, aku merindukan hangat pelukmu, aku ingin merasakan kasih
sayang dari ibu, aku kangen sama ibu, aku cinta ibu, aku tau ibu sebenarnya
menyayangiku sehingga ibu ingin aku menjadi anak yang rajin bukan pemalas, yang
mandiri bukan selalu bergantung pada orang lain. Ayah sangat menyayangiku, aku
juga sayang ayah tapi aku bisa setiap saat merasakan hangat pelukan ayah, aku
ingin merasakan hangat pelukan ibu, kapankah ibu mau memelukku ? Apa hingga
tubuhku nanti terbaring lemah ibu tak mau memelukku ?? ibu aku tau umurku sudah
tidak lama lagi, meskipun ayah tidak mau memberitahu tentang penyakitku ini
tapi aku mendengarkan pembicaraan dokter bahwa aku divonis penyakit kanker otak
bu?? aku menyayangimu bu, aku tak mau ayah menyakitimu…
ibu aku berharap ibu membaca surat kecil ini…
Aku
menyayangimu buu… Ailend sayang ibu…
Selembar kertas itu membuat air mata
Via menetes tanpa terasa, Via mulai menyadari bahwa ternyata anak yang selama
ini dianggapnya pembawa sial sangat menyayanginya. Via memberikan selembar
kertas itu ke Adit. Aditpun menangis dan segera mengajak Via untuk berkunjung
ke makam Ailend. Via menangis sejadi – jadinya dimakam Ailend. Penyesalan Via
terlambat untuk meminta maaf ke Ailend, kasih sayang yang akan diberikan juga
tidak mungkin lagi, Via benar – benar menyesali semua sikapnya selama ini. Via
hanya bisa menangis dan berteriak meminta maaf pada bidadari kecilnya yang
selama ini diabaikannya, yang selama ini tak pernah dianggap kehadirannya.
Penyesalan yang datang terlambat disadari oleh Via. Adit hanya bisa menenangkan
Via yang sudah sadar akan kesalahannya selama ini. Via merasa tak kuat
menanggung penyesalannya.
Sebulan Via tak mau bicara, makanpun
hanya sedikit, Via tak merawat tubuhnya sedikitpun, dibiarkannya berantakan.
Via masih merasa bersalah atas kematian Ailend, Bidadari kecil yang cantik yang
telah tulus menyayanginya, akhirnya Via mencoba untuk menyusul Ailend dan
meminta maaf, Via meninggal dalam kecelakaan ketika menuju ke makam Ailend.
Adit yang saat itu bekerja akhirnya pulang dan meratapi kejadian yang terjadi
pada istrinya. Adit merasa tak kuat hidup tanpa orang – orang yang ia sayangi,
dan pisau yang ditancapkan di dadanya menunjukkan bahwa Aditpun menyusul Via
dan Ailend.
KEKUATAN ADAT MELEMAHKAN EMANSIPASI WANITA
By : Unknown
KEKUATAN ADAT MELEMAHKAN EMANSIPASI WANITA
Novel Cinta Yang Membawa Maut
Karya Nur Sutan Iskandar & Abdoel Ager
Oleh Erlin Fortunela S.
5.11.06.13.0.006
A.
Pendahuluan
Sastra
merupakan seni bahasa yang mengandung nilai-nilai kebaikan yang ditulis dengan
bahasa yang indah dan memiliki makna yang dalam berdasarkan pengalaman jiwa
manusia serta disusun dengan bahasa yang indah sehingga mencapai nilai estetika
yang tinggi. Novel adalah sebuah karya fiksi prosa
yang ditulis secara naratif, biasanya dalam bentuk cerita.
Novel lebih panjang (setidaknya 40.000 kata) dan lebih kompleks
dari cerpen,
dan tidak dibatasi keterbatasan struktural dan metrikal sandiwara
atau sajak. Umumnya sebuah novel bercerita tentang tokoh-tokoh dan kelakuan
mereka dalam kehidupan sehari-hari.
Novel menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah karangan prosa
yang panjang mengandung rangkaian cerita kehidupan seseorang dengan orang
disekelilingnya dengan menonjolkan watak dan sifat setiap pelaku. Karya sastra
apalagi novel dapat dinikamati oleh berbagai kalangan yang biasanya disebut
sebagai masyarakat pecinta sastra.
Zaman terus berganti kearah yang lebih cerah. Dalam peralihan zaman
ini, karya – karya satrawan yang terlarang dulu dapat diterbitkan kembali. Saat
ini masyarakat mendapat kesempatan dan kebebasan untuk membuat karya – karya besarnya,
sehingga mampu berekspresi dengan kemampuan yang dimilikinya untuk menciptakan
suatu karya sastra.
B.
Kekuatan
Adat Melemahkan Emansipasi Wanita
Novel Cinta Yang Membawa Maut karya Nur Sutan Iskandar
dan Abdoel Ager diterbitkan oleh Balai Pustaka tahun 1926 pada cetakan pertama.
Cinta Yang Membawa Maut, dari judulnya saja kita sudah dapat membayangkan isi
dari novel tersebut, mungkin mengenai kekuatan cinta yang tak sampai hingga
akhirnya dibawa sampai mati.
Ternyata perkiraan saya benar, novel ini menceritakan
kisah cinta yang tak sampai melalui tokoh – tokohnya dengan gaya Melayunya yang
khas. Banyak nasihat yang dapat diambil sebagai pelajaran dalam pergaulan kita
sehari – hari.
Cinta yang tak
mendapat ijin dari orang tua nampaknya akan sia – sia saja.Bahwa telah
diketahui kuasa orang tua itu besar
kepada anaknya, kerasnya kekuatan adat di negeri ini dan uanglah yang berkuasa
pula. Jikalau anak telah menghendaki untuk menjadi suami istri kelak, akan
tetapi kalau orang tua tidak setuju jangan pernah berharap semua itu akan jadi
nyata. Dahlan dan Syamsiar yang telah terlanjur berkata kelak akan menjadi
suami istri tanpa terlebih dahulu memberi tahukan ini kepada orang tua masing –
masing kelakpun tak akan berakhir bahagia. Jika menurut adat istiadat bangsa
ini, tidak patut seorang laki – laki datang meminang seorang gadis, kepada
gadis itu sendiri, karena yang terpenting adalah orang tua sajalah yang harus
merundingkan itu semua, jika kedua belah pihak sudah sepakat meskipun seorang
laki – laki dan perempuan itu belum saling kenal maka pernikahanpun sudah boleh
dilaksanakan. Disinilah yang menyebabkan tertindasnya kaum wanita dan banyaknya
pernikahan yang tidak berlangsung selamanya. Dengan kekuatan adat istiadat yang
tak dapat lagi di langgar semakin membuat kaum yang lemah tertindas, dengan
kekuasaan orang tua pula terhadap anaknya membuat anak untuk tidak berani
menentukan sendiri arah hidup yang dipilihnya karena jika anak melanggar dan
tak mau menuruti perintah orang tua sama saja itu durhaka, apalagi dengan orang
yang mempunyai harta yang berlimpah apa saja bisa dilakukan olehnya, yang
mementingkan kebahagiaannya sendiri dibandingan kebahagiaan orang lain dan
masyarakat umum. Adat istiadat dengan perjodohan nampaknya membuat kaum wanita
merasa tak berdaya dan tak mampu lagi berbuat apa – apa, karena jika ia menolak
untuk dijodohkan itu berarti ia telah durhaka kepada orang tua. Sebaliknya
begitu apakah orang tua tidak pernah sedikitpun peduli dengan kebahagiaan
anaknya, yang ada dipikiran mereka bahwa perjodohan ini untuk mengikat tali
silahturahmi dan mengangkat derajatnya jika bermenantukan orang kaya.
Dahlan dan
Syamsiar adalah sahabat yang diam – diam menyimpan rasa cinta dan kasih sayang
mereka di hati masing – masing. Namun akhirnya semua itu terungkap juga oleh
keduanya. Dahlan dan Syamsiar menyembunyikan hubungan mereka dari keluarga
masing – masing, yang ini menandakan bahwa Syamsiar telah melanggar adat yang
ada, tak baik jika seorang gadis berjalan berdua dengan laki – laki tanpa ada
orang kepercayaan yang mendampinginya. Dan setelah semuanya berjalan tiba –
tiba Dahlan mendapatkan surat tugas dari Tuan Insperkur sekolah Bumiputra untuk
ke Bukittinggi untuk melaksanakan ujian hulponderwijzer yang diadakan di
Sekolah Raja ( Kweekschool ), sebuah ujian untuk menjadi guru bantu. Sebelum
keberangkatan Dahlan Syamsiar berpesan kepada Dahlan bila sesampai di
Bukittinggi hendaklah langsung mengirim surat, namun apa yang terjadi tak
disangka, sesampainya disana Dahlan malah mengulur waktu untuk menulis surat
karena ia percaya bahwa Syamsiar akan selalu setia menantinya dan tak akan
berpaling ke laki – laki lain. Setelah mengikuti ujian itu Dahlan pun lulus
dengan nilai terbaik dan nomor satu, namun tak disadari yang terjadi di
Sawahlunto tempat kekasihnya bahwa Syamsiar telah dijodohkan oleh orang tuanya
dengan anak Baginda Suleman yang bernama Abdullah. Perjodohan ini tak
diberitahukan ke Syamsiar, bahkan pesta pernikahannya akan dilaksanakan 3 hari
kedepan.
Namun meskipun
begitu Syamsiar akhirnya tahu, ia menangis tak kuasa atas semua yang
diketahuinya saat ini. Secepatnya ia pergi kerumah sahabatnya untuk menulis
surat kepada Dahlan yang mengabarkan perjodohan ini. Syamsiar meminta Dahlan
untuk segera pulang dan menolongnya lepas dari semua ini. Namun surat Syamsiar
datang terlambat, semua terlambat diketahui oleh Dahlan. Sebagai anak yang berbakti
kepada orang tua dan mematuhi adatnya, ia pun menerima perjodohan ini. Syamsiar
pun menikah terpaksa dengan Abdullah, namun apa hendak dikata ia tak merasa
bisa mencintai suaminya itu, rasa cintanya begitu besar pada Dahlan. Setelah
itu beberapa hari kemudian Dahlan kembali ke Sawahlunto dan menemui Syamsiar
secara diam – diam. Tetapi setelah pertemuan itu keesokan harinya Dahlan pergi
mengajar dan mendapatkan surat yang berisi Acte van bekwaamheid yang
tandanya Dahlan telah berhasil dalam cita – citanya menjadi guru bantu (
hulponderwijzer ) di Kutaraja.
Beberapa bulan
Dahlan di Kutaraja ia selalu saja teringat Syamsiar, begitupun Syamsiar.
Semenjak Dahlan meninggalkan Sawahlunto, Syamsiar tidak pernah bahagia hidup
bersama Abdullah, justru hanya Dahlan yang ada di hati dan pikirannya. Syamsiar
tak mampu lagi berpikir, semuanya kacau balau. Ia telah berusaha menjadi istri
yang baik untuk Abdullah namun apapun yang dilakukannya tak pernah bisa
membuatnya nyaman tinggal dan hidup bersama Abdullah. Semakin Syamsiar mencoba
untuk mencintai Abdullah, semakin ia teringat pada Dahlan yang mungkin tak kan
bertemu lagi di dunia ini. Beginilah hasil pernikahan yang tanpa didasari cinta
dan kasih sayang, yang hanya mengandalkan adat, harta, kekuasaan orang tua
terhadap anaknya dan anak yang tak mampu menolak perintah orang tuanya.
Syamsiar tak bahagia hidup bergelimang harta, ia merindukan saat – saat bersama
Dahlan yang sederhana namun mampu menjaga cinta kasih sayangnya.
Dahlan pun yang
jauh di Kutaraja menderita sakit dan harus berulang – ulang pergi ke dokter.
Dahlan yang selalu memikirkan Syamsiarpun tak tahu harus bagaimana lagi. Ia
menyesal mengapa dulu tak ia katakan langsung apa maksud hati yang dikehendaki
kepada orang tua Syamsiar. Andaikan waktu itu Dahlan sampaikan niatnya mungkin
sekarang tak akan seperti ini. Penyesalan selalu datang pada akhirnya jika
semuanya telah hilang dan lenyap dari genggaman. Dahlanpun akhirnya meninggal
dunia karena sakitnya itu, dan Syamsiar pun bunuh diri karena tak kuat menahan
rasa sayang dan rindu kepada Dahlan. Sejak saat itu orang tua Syamsiar merasa
telah menyesal menjodohkan anaknya dengan lelaki yang tak pernah dicintai
anaknya. Karena sangat berduka cita atas meninggalnya Syamsiar akhirnya kedua
orang tua Syamsiar meninggal dunia, Baginda Suleman pun meninggal dunia juga
karena tak tahan melihat semua ini. Abdullah yang hampir gila selama bertahun –
tahun karena kehilangan istrinya akhirnya menikah kembali dengan perempuan yang
tulus mencintainya.
Dalam kisah ini
dapat diambil amanat, bahwa kekuatan adat, kekuasaan orang tua dan harta janganlah
dijadikan penghalang dan diandalkan untuk menentukan kebahagiaan seseorang,
jika memang adat itu benar dan baik sesuai dengan kehidupan maka itu memang
patut dilaksanakan, serta janganlah orang tua berfikir cepat untuk menentukan
kebahagiaan anak sebelum tahu yang sebenarnya isi hati anak tersebut dan
menyesal kemudian, karena kebahagiaan anak itu tidak hanya diukur dengan materi
dan harta yang berlimpah. Dalam novel ini alur yang digunakan alur maju. Nur
Sutan Iskandar menggambarkan tokoh Syamsiar sebagai gadis yang menurut kepada
orang tua, baik hati dan peduli terhadap teman serta tidak berani jujur tentang
kata hatinya pada kedua orang tuanya, sedangkan Dahlan seorang guru yang baik
hati dan dicintai oleh muridnya, namun Dahlan tidak berani mengungkapkan
perasaannya terhadap orang tua Syamsiar.
Gaya
bahasa yang digunakan dalam novel ini memang dominan bahasa melayu, karena cetakan pertamanya tahun 1926, waktu bahasa
melayu masih menjadi bahasa pengantar karya sastra Indonesia.Banyak hal menarik
dalam novel ini, sambungan antar bagian cerita tersusun begitu baik, permainan
perasaannya sangat menyentuh hati apalagi novel ini ‘sad ending’.
Pembawaan cerita Nur Sutan Iskandar dan Abdoel Ager menambah nilai tersendiri
bagi novel ini. Secara keseluruhan, penilaian saya terhadap novel ini hampir
sempurna, karena saya tidak menemukan keganjalan ataupun kekurangan dari novel
ini. Mungkin karena saya bukan kritikus yang handal, tapi pendapat seseorang
pastilah berbeda, saya memiliki hak untuk itu.
C.
Penutup
Dari uraian
diatas dapat disimpulkan bahwa :
1.
Adat
merupakan suatu tradisi yang sulit untuk dihilangkan karena itu warisan turun
temurun yang layaknya harus dilestarikan dan dijaga. Jangan sampai adat itu
menjadikan sesuatu yang harus dipaksakan dalam kehidupan sehari – hari. Ambil
sisi baik dan buang sisi buruknya karena belum tentu adat tersebut sesuai
dengan kehidupan saat ini.
2.
Harta
merupakan pemegang kekuasaan dalam segala bidang sehingga dengan harta semua
akan dapat bertindak sesuka hatinya tanpa memikirkan dampak yang akan terjadi.
3.
Kekuasaan
orang tua akan berpengaruh pada kehidupan anak – anaknya sehingga membentuk
jiwa dan kepribadian anak yang sesuai dengan kemauan orang tua yang mempengaruhi
psikologis anak tersebut.
4.
Cinta
adalah perasaan sayang, saling membutuhkan dan pengertian. Karenanya cinta itu
akan selalu membutakan hati dan perasaan bagi siapa yang dihinggapinya, sebab
cinta akan membuat hidup kita antara bahagia dan sengsara.
SENANDUNG CINTA KARYA KAHLIL GIBRAN INTERPRETASI SEMIOTIK RIFFATERE
By : Unknown
SENANDUNG
CINTA KARYA KAHLIL GIBRAN
INTERPRETASI SEMIOTIK RIFFATERE
MAKALAH
Untuk Memenuhi Persyaratan
Ujian Akhir Semester Genap
Erlin Fortunela Stavanavionita
5.11.06.13.0.006
UNIVERSITAS
ISLAM MAJAPAHIT MOJOKERTO
FAKULTAS
KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
PRODI
BAHASA DAN SASTRA INDONESIA 2013
KATA PENGANTAR
Dengan puji syukur
kehadirat ALLAH SWT
pemberi kemudahan bagi jalan hidup sehingga saya dapat
menyelesaikan makalah tentang “SENANDUNG CINTA KARYA KAHLIL GIBRAN INTERPRETASI SEMIOTIK
RIFFATERE” dapat terselesaikan tanpa ada hambatan apapun. Dalam pengkajian menggunakan intepretasi semiotik
riffatere sangat tepat untuk menganalisis puisi ini dan kandungan makna yang
terdapat dalam untaian kata – kata yang indah
Dalam
pengerjaan makalah ini, saya mendapat bantuan dari berbagai pihak yang ada.
Untuk itu saya ingin mengucapkan terimakasih kepada berbagai pihak yang telah
membantu saya dalam terselesaikannya makalah ini.
Saya
mengucapkan terima kasih kepada :
1.
Prof. DR. Machmoed zain, APU selaku rektor.
2. Dr.
Ludi Wishnu Wardana, MM,selaku dekan.
3. Bapak SamsunM.A
selaku
dosen pengampu .
4.
dan rekan – rekan sekalian. Semoga makalah ini
bermanfaat untuk kita semua.
Akhirnya saya hanya mampu berharap dan berdoa semoga segala bantuan yang
telah diberikan mendapat balasan dari Allah SWT. Sayapun menyadari sebagai
manusia, saya mempunyai banyak kekurangannya, maka tegur
sapa yang bersifat membangun akan diterima dengan senang hati.
Penulis
DAFTAR
ISI
|
Halaman
Judul
|
.........................................................................
|
1
|
|
Kata
Pengantar
|
.........................................................................
|
2
|
|
Daftar Isi
|
.........................................................................
|
3
|
|
BAB I
PENDAHULUAN
|
.........................................................................
|
4
|
|
1.1 Latar
Belakang
|
.........................................................................
|
4
|
|
1.2 Rumusan
Masalah
|
.........................................................................
|
6
|
|
1.3 Tujuan
Penelitian
|
.........................................................................
|
6
|
|
1.4 Manfaat
Penelitian
|
.........................................................................
|
6
|
|
1.5 Definisi
Operasional
|
.........................................................................
|
7
|
|
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
|
.........................................................................
|
8
|
|
BAB III
PEMBAHASAN
|
.........................................................................
|
10
|
|
3.1 Puisi
|
.........................................................................
|
10
|
|
3.2
Pemenggalan Puisi
|
.........................................................................
|
11
|
|
3.3
Parafrase Puisi
|
.........................................................................
|
12
|
|
3.4
Pembacaan Heuristik
|
.........................................................................
|
13
|
|
3.5
Pembacaan Hermeneutik
|
.........................................................................
|
15
|
|
3.6 Matrik
dan Model
|
.........................................................................
|
17
|
|
3.7 Varian
|
.........................................................................
|
18
|
|
BAB IV
PENUTUP
|
.........................................................................
|
20
|
|
4.1 Simpulan
|
.........................................................................
|
20
|
|
4.2 Saran
|
.........................................................................
|
20
|
|
DAFTAR
PUSTAKA
|
.........................................................................
|
21
|
BAB
I
PENDAHULUAN
1.1
Latar
Belakang
Perasaan yang ada dalam diri manusia tidak dapat
dipungkiri, karena setiap manusia di
ciptakan dengan akal, pikiran, dan perasaan. Akal digunakan untuk memahami
sesuatu, sedangkan pikiran dapat disebut sebagai gerak pikiran atau rasa hati yang tidak
tetap, sehingga perasaan mampu mengungkapkan sesuatu yang terjadi dalam hati
manusia. Sekalipun manusia yang mempunyai perasaan tak
mampu menggunakannya dengan baik, ada yang menggunakan perasaan dengan baik,
bahkan ada yang mempermainkannya. Akhir-akhir ini manusia tidak dapat
mengutarakan perasaannya dengan baik dikarenakan tidak memiliki keberanian dan
merasa bimbang atas apa yang dirasakan. Bagi seorang pengarang yang peka terhadap
permasalahan- permasalahan tersebut, dengan hasil perenungan, penghayatan, dan
hasil imajinasinya, kemudian menuangkan gagasan/
idenya tersebut dalam karya sastra.
Sebuah karya
sastra diciptakan untuk dapat
dinikmati oleh pembaca. Untuk dapat menikmati suatu karya sastra secara
sungguh-sungguh dan baik diperlukan pengetahuan tentang sastra. Tanpa
pengetahuan yang cukup, penikmatan akan sebuah karya sastra hanya bersifat
dangkal dan sepintas karena kurangnya pemahaman yang tepat. Sebelumnya,
patutlah semua orang tahu apa yang dimaksud dengan karya sastra. Karya sastra
bukanlah ilmu. Karya sastra adalah seni, banyak unsur kemanusiaan yang masuk di
dalamnya, khususnya perasaan, sehingga sulit diterapkan untuk metode keilmuan.
Perasaan, semangat, kepercayaan, keyakinan sebagai unsur karya sastra sulit
dibuat batasannya.
Sebuah
karya sastra
adalah ciptaan yang disampaikan dengan komunikatif tentang
maksud penulis untuk tujuan estetika. Karya-karya ini sering menceritakan
sebuah kisah, dengan plot dan melalui penggunaan berbagai perangkat sastra yang
terkait dengan waktu mereka.Menurut bentuk atau subjek, karya sastra mungkin
memiliki jenis yang berbeda seperti narasi (sebuah karya
prosa, seperti novel atau cerita pendek ), puisi (komposisi
dalam ayat yang mengekspresikan perasaan penulis), drama , epik
(ayat-ayat yang menceritakan perbuatan pahlawan atau dewa-dewa) atau mengajar
(yang berusaha untuk mengarahkan pembaca atau pendengar).
Dikhususkan saat ini adalah puisi yang merupakan
ekspresi pengalaman batin (jiwa) penyair mengenai kehidupan manusia, alam, dan
Tuhan melalui media bahasa yang estetik yang secara padu dan utuh dipadatkan
kata-katanya, dalam bentuk teks yang dinamakan puisi. Masalah kehidupan yang
disuguhkan penyair dalam puisinya tentu saja bukan sekedar refleksi realitas
(penafsiran kehidupan, rasa simpati kepada kemanusiaan, renungan mengenai
penderitaan manusia dan alam sekitar) melainkan juga cenderung mengekspresikan hasil
renungan penyair tentang dunia metafisik, gagasan-gagasan baru ataupun sesuatu
yang belum terbayangkan dan terpikirkan oleh pembaca, sehingga puisi sering
dianggap mengandung suatu misteri. Puisi selalu berubah-ubah sesuai dengan evolusi selera dan perubahan
konsep estetiknya (Riffaterre, 1987: 3).
Sebelum pengkajian aspek-aspek yang
lain, pemakalah menganalisis atau mengkaji puisi yang berjudul “Senandung Cinta
karya kahlil gibran interpretasi semiotik riffatere” karena dalam karya-karyanya, pesona cinta yang disulam sedemikian syahdu oleh tangan
seorang Gibran dan indahnya rangkaian kata-kata yang membuat melayang dimabuk
kepayang, sehingga membuat pemakalah tertarik untuk menganalisisnya agar
dapat diketahui bahwa berjuang demi sesuatu yang dicintai merupakan sikap yang jauh lebih
penting dan lebih mulia ketimbang berjuang melawan sesuatu yang di benci. Puisi
karya Kahlil Gibran sangat menarik untuk dikaji dengan berbagai tema yang telah
disajikan terutama tentang kekuatan cinta yang tak kan pernah ada habisnya.
Cinta merupakan misteri kehidupan, tidak pernah tahu cinta itu datang dan akan
pergi sebelum kita merasakan getarannya. Dalam “Senandung Cinta” ini hanya
sedikit ungkapan yang tertuliskan, namun tak mampu untuk tergambarkan dan
tersampaikan, perjuangan cinta yang begitu mendalam dan kadang membuat resah
gelisah, itulah yang membuat pemakalah ingin mengkaji puisi yang begi indah ini
hasil tulisan Kahlil Gibran.
Puisi “Senandung Cinta” adalah puisi karya
Kahlil Gibran yang mencerminkan tentang betapa bimbangnya perasaan yang tak
dapat diungkapkan. Memendam semua rasa dan tidak pernah mengungkapkannya pada
orang yang terkasih hanya akan membuat gelisah hati, resah dan bimbang yang
tidak pernah bisa diungkapkan dengan kata – kata apapun.
Untuk memenuhi persyaratan ujian akhir
semester genap penelitian terhadap puisi ini dilakukan melalui intepretasi
semiotik riffatere untuk dapat mengetahui kandungan makna serta matrik, model,
dan varian yang terdapat dalam puisi tersebut.
1.2
Rumusan Masalah
Pentingnya melakukan penelitian terhadap puisi karya Kahlil
Gibran tersebut tidak hanya demi mengembangkan sastra, tetapi juga untuk
menjawab sejumlah masalah yang ada.Masalah pokok yang
perlu diuraikan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Bagaimana kandungan makna Senandung Cinta berdasarkan
pembacaan
heuristik dan
hermeneutik?
2. Bagaimana matriks, model,dan varian yang
terdapat dalam Senandung Cinta
Karya Kahlil Gibran?
1.3
Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah yang
dkemukakan diatas, maka tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. mengungkap
makna yang terkandung pada puisi Kahlil Gibran berdasarkan pembacaan heuristic
dan hermeneutic.
2. Mengungkap
model bahasa yang terdapat dalam puisi Kahlil Gibran.
1.4
Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat
memberikan manfaat kepada pembaca, khususnya pembaca dibidang sastra berupa
pemahaman mengenai kandungan makna puisi Senandung Cinta berdasarkan pembaca
heuristic dan hermeneutic, dan model bahasa yang terdapat dalam puisi tersebut,
dan hubungan intertekstual puisi Senandung Cinta dengan teks lain.
Penelitian ini mempunyai manfaat
teoretis dan praktis. Manfaat teoritis dari penelitian ini adalahuntuk
memperkaya referensi mengenai pesona cinta yang
direpresentasikan dalam suatu karya sastra, khususnya puisi, akan memberikan
pengertian dan pemahaman mengenai cinta tidak
menyadari kedalamannya dan terasa pada saat perpisahan tiba.
Manfaat praktisnya adalah penelitian
ini dapat digunakan sebagai model untuk
melihat dan menganalisis puisi melalui pendekatan struktural dan semiotik.
Manfaat lain dari hasil penelitian
ini adalah pembaca diharapkan mendapat pemahaman bahwa karya sastra lisan,
khususnya puisi menarik untuk diteliti secara ilmiah dari aspek semiotik.
Selain itu, hasil penelitian ini juga diharapkan dapat bermanfaat sebagai bahan
rujukan atau bahan perbandingan untuk penelitian sejenis yang dilakukan
terhadap karya sastra lain.
1.5
Definisi Operasional
1.5.1 Puisi senandung cinta karya kahlil gibran menceritakan tentang seseorang yang merasakan kegelisahan hati
karena perasaan cinta yang tak dapat terlukiskan dan tak dapat di ungkapkan.
1.5.2 analisis puisi semiotic
riffatere dipakai berdasarkan pertimbangan bahwa semiotic
Riffaterre lebih mengkhususkan pada analisis puisi. Puisi Senandung Cinta salah satu jenis puisi
lama, oleh karena itu pendekatan semiotic
yang lebih tepat digunakan adalah pendekatan semiotic Riffaterre.
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
Sastra adalah
sesuatu yang mengacu pada milik atau berkaitan dengan sastra (himpunan
pengetahuan yang berkaitan dengan menulis dan membaca dengan baik, atau seni
puisi, retorika dan tata bahasa). Sebuah karya sastra adalahciptaan yang
disampaikan dengan komunikatif tentang maksud penulis untuk tujuan estetika.
Karya-karya ini sering menceritakan sebuah kisah , baik dalam atau ketiga orang
pertama, dengan plot dan melalui penggunaan berbagai perangkat sastra yang
terkait dengan waktu mereka.Menurut bentuk atau subjek, karya sastra mungkin
memiliki jenis yang berbeda seperti narasi (sebuah karya
prosa, seperti novel atau cerita pendek ), puisi (komposisi
dalam ayat yang mengekspresikan perasaan penulis), drama , epik
(ayat-ayat yang menceritakan perbuatan pahlawan atau dewa-dewa) atau mengajar
(yang berusaha untuk mengarahkan pembaca atau pendengar).
Karya
sastra juga dapat berupa tulisan (buku atau media cetak
lain bermain cerita tanpa perubahan) atau lisan (diwariskan dari generasi ke
generasi dan sering berubah dari waktu ke waktu, seperti legenda atau cerita
rakyat). Karya-karya juga dapat taktil, ketika disesuaikan dengan kebutuhan orang-orang
buta melalui Braille.Semiotika
adalah ilmu tentang
tanda-tanda,mempelajari fenomenal sosial-budaya, termasuk sastra sebagai sistem
tanda (preminger 1974:980). Tanda mempunyai dua aspek,yaitu penanda (signifier,signifiant) dan petanda (signified,signifie). Penanda adalah bentuk
formal tanda itu,dalam bahasa berupa satuan bunyi,atau huruf dalam sastra
tulis,sedangkan petanda (signified)
adalah artinya,yaitu apa yang ditandai oleh penandanya itu. Berdasarkan
hubungan antara penanda dan petandanya ada tiga jenis tanda,yaitu
ikon,indeks,dan simbol.
Ikon adalah tanda yang penanda dan
petandanya menunjukkan ada hubungan yang bersifat alamiah, yaitu penanda sama
dengan petandanya, misalnya gambar, potret, atau patung.
Indeks adalah tanda yang penanda dan
petandanya menunjukkan adanya hubungan alamiah yang bersifat kausalitas,
misalnya, asap menandai api, mendung menandai hujan.
Simboladalah
tanda yang penanda dan petandanya tidak menunjukkan adanya hubungan alamiah;
hubungannya arbiter (semau-maunya) berdasarkan konvensi. Hubungan antara
penanda dan petanda bersifat konvensional, yaitu artinya ditentukan oleh
konvensi.
Semiotik
merupakan ilmu tentang tanda. Tanda ini akan digunakan untuk mengidentifikasi
puisi senandung cinta karya kahlil gibran akan didapatkan korelasi yang
komprehensif antara tanda dan makna. Semiotik yang akan digunakan adalah
semiotik Rifaterre karena semiotik ini memiliki langkah-langkah khusus untuk
menganalisis puisi. Bahasa yang merupakan sistem tanda dan sebagai medium karya
sastra adalah sistem tanda tingkat pertama. Dalam ilmu tanda-tanda atau
semiotik, arti bahasa sebagai sistem tanda. tanda tigkat pertama disebut meaning
(arti) , karya sastra juga merupakan sistemtanda yang lebih tinggi kedudukannya
dari bahasa, maka disebut semiotik tingkatkedua. Jadi sastra merupakan arti
dari arti (meaning of meaning). Untukmembedakannya (dari arti bahasa),
arti sastra disebut sebagai makna(significance). Dalam puisi,
ketidaklangsungan ekspresi menduduki posisi yang utama. Ketidaklangsungan
ekspresi yang dimaksud disebabkan oleh adanya penggantian arti (displacing
of meaning), penyimpangan arti (distorting of meaning), dan
penciptaan arti (creating of meaning).Hal kedua adalah pembacaan
heuristik dan pembacaan hermeneutik. Pembacaan heuristik adalah pembacaan pada
taraf mimesis atau pembacaan yang didasarkan konvensi bahasa. Karena bahasa
memiliki arti referensial, pembaca harus memiliki kompetensi linguistik agar
dapat menangkap arti (meaning).
Hal ketiga adalah penentuan matriks dan model. Dalam hal
ini, matriks dapat dimengerti sebagai konsep abstrak yang tidak pernah
teraktualisasi. Konsep ini dapat dirangkum dalam satu
kata atau frase. Aktualisasi
pertama dari matriks adalah model. Model ini dapat berupa kata atau kalimat
tertentu. Berdasarkan hubungan ini, dapat dikatakan bahwa matriks merupakan
motor penggerak derivasi tekstual, sedangkan model menjadi pembatas derivasi
itu.
BAB III
PEMBAHASAN
3.1
PUISI
Senandung
Cinta
Khalil Gibran
Jiwa yang terkapar nada rindu mengusik kalbu
Khalil Gibran
Jiwa yang terkapar nada rindu mengusik kalbu
Nyanyian
yang tiada pernah tergores tinta
Nada kasih mengalir menembus sukma
Menyentuh batin mengalirkan sayang
Nyanyian yang tiada pernah tergores tinta
Sungguh...betapa segala resah mendesah
Bimbang mengguncang dalam ketidak-abadian
Untuk siapa nada ini kan menyapa
Di relung jiwa bersemayam segala rasa
Terhempas risau, melayang hilang
Menjelajah hati menjawab tanya
Hadir membayang dalam bayang-bayang
Getar ujung jemari kabarkan kehadirannya
Nyata terasa getaran dijiwa.
Bening air mata, berkaca-kaca
Bak air telaga yang memantulkan gemerlap bintang
Sendu merayu ditengah heningnya malam
Bercengkrama bersama titik-titik embun
Membongkar dinginnya kabut rahasia
Hingga kebenaran, datang menjelang
Nada lahir dari ujung renungan
Mengalun bersama kesunyian
Menepis semua kebisingan
Mengalir diantara mimpi dan bayangan
Adalah cinta terbawa nyata diantara alunan nada
Rindu memecah sepi, lantang bergemuruh menderu hati
Menabur mimpi, dalam hasrat menggebu di ujung rindu
Dibalik nada-nada cinta, aku menemukanmu
Nada kasih mengalir menembus sukma
Menyentuh batin mengalirkan sayang
Nyanyian yang tiada pernah tergores tinta
Sungguh...betapa segala resah mendesah
Bimbang mengguncang dalam ketidak-abadian
Untuk siapa nada ini kan menyapa
Di relung jiwa bersemayam segala rasa
Terhempas risau, melayang hilang
Menjelajah hati menjawab tanya
Hadir membayang dalam bayang-bayang
Getar ujung jemari kabarkan kehadirannya
Nyata terasa getaran dijiwa.
Bening air mata, berkaca-kaca
Bak air telaga yang memantulkan gemerlap bintang
Sendu merayu ditengah heningnya malam
Bercengkrama bersama titik-titik embun
Membongkar dinginnya kabut rahasia
Hingga kebenaran, datang menjelang
Nada lahir dari ujung renungan
Mengalun bersama kesunyian
Menepis semua kebisingan
Mengalir diantara mimpi dan bayangan
Adalah cinta terbawa nyata diantara alunan nada
Rindu memecah sepi, lantang bergemuruh menderu hati
Menabur mimpi, dalam hasrat menggebu di ujung rindu
Dibalik nada-nada cinta, aku menemukanmu
3.2 Pemenggalan Puisi
Senandung
Cinta
Khalil Gibran
Jiwa yang terkapar/ nada rindu mengusik kalbu//
Khalil Gibran
Jiwa yang terkapar/ nada rindu mengusik kalbu//
Nyanyian yang tiada pernah tergores tinta//
Nada kasih/ mengalir menembus sukma/
Menyentuh batin/ mengalirkan saying//
Nyanyian yang tiada pernah tergores tinta//
Sungguh.../betapa segala resah mendesah//
Bimbang/ mengguncang dalam ketidak-abadian//
Untuk siapa nada ini kan menyapa//
Di relung jiwa/ bersemayam segala rasa//
Terhempas risau,/ melayang hilang/
Menjelajah hati/ menjawab Tanya//
Hadir membayang dalam bayang-bayang//
Getar ujung jemari/ kabarkan kehadirannya//
Nyata terasa getaran dijiwa.//
Bening air mata,/ berkaca-kaca/
Bak air telaga/ yang memantulkan gemerlap bintang//
Sendu merayu ditengah heningnya malam//
Bercengkrama/ bersama titik-titik embun//
Membongkar dinginnya kabut rahasia//
Hingga kebenaran,/ datang menjelang//
Nada lahir dari ujung renungan//
Mengalun bersama kesunyian//
Menepis semua kebisingan//
Mengalir diantara mimpi dan bayangan//
Adalah cinta terbawa nyata diantara alunan nada//
Rindu memecah sepi,/ lantang bergemuruh menderu hati//
Menabur mimpi,/ dalam hasrat menggebu di ujung rindu//
Dibalik nada-nada cinta,/ aku menemukanmu//
Nada kasih/ mengalir menembus sukma/
Menyentuh batin/ mengalirkan saying//
Nyanyian yang tiada pernah tergores tinta//
Sungguh.../betapa segala resah mendesah//
Bimbang/ mengguncang dalam ketidak-abadian//
Untuk siapa nada ini kan menyapa//
Di relung jiwa/ bersemayam segala rasa//
Terhempas risau,/ melayang hilang/
Menjelajah hati/ menjawab Tanya//
Hadir membayang dalam bayang-bayang//
Getar ujung jemari/ kabarkan kehadirannya//
Nyata terasa getaran dijiwa.//
Bening air mata,/ berkaca-kaca/
Bak air telaga/ yang memantulkan gemerlap bintang//
Sendu merayu ditengah heningnya malam//
Bercengkrama/ bersama titik-titik embun//
Membongkar dinginnya kabut rahasia//
Hingga kebenaran,/ datang menjelang//
Nada lahir dari ujung renungan//
Mengalun bersama kesunyian//
Menepis semua kebisingan//
Mengalir diantara mimpi dan bayangan//
Adalah cinta terbawa nyata diantara alunan nada//
Rindu memecah sepi,/ lantang bergemuruh menderu hati//
Menabur mimpi,/ dalam hasrat menggebu di ujung rindu//
Dibalik nada-nada cinta,/ aku menemukanmu//
3.3 Parafrase Puisi
Senandung
Cinta
Khalil Gibran
Jiwa yang (telah) terkapar (dalam) nada rindu (yang) mengusik kalbu
Khalil Gibran
Jiwa yang (telah) terkapar (dalam) nada rindu (yang) mengusik kalbu
(dalam) Nyanyian yang tiada pernah (bisa) tergores (oleh) tinta
Nada kasih (yang) mengalir menembus sukma
Menyentuh batin mengalirkan (kasih) sayang
(dalam) Nyanyian yang tiada pernah (bisa) tergores (oleh) tinta
Sungguh...betapa segala (rasa) resah mendesah
(ketika) Bimbang mengguncang (hati) dalam ketidak-abadian
Untuk siapa (-kah) nada ini kan menyapa
Di relung jiwa (telah) bersemayam segala rasa (gelisah)
Terhempas risau, melayang hilang (kata-kata)
Menjelajah hati (mencoba ) menjawab (sebuah) tanya
(hingga) Hadir membayang dalam bayang-bayang (-mu)
(terasa) Getar ujung jemari (ketika) kabarkan kehadirannya
Nyata terasa getaran (hati) dijiwa (ini)
Bening air mata, (terlihat) berkaca-kaca
Bak air telaga yang (telah) memantulkan gemerlap (cahaya) bintang
Sendu merayu ditengah heningnya malam (sunyi)
Bercengkrama bersama (dengan) titik-titik embun
Membongkar (rasa) dinginnya kabut (dalam) rahasia
Hingga kebenaran, (akan) datang menjelang
Nada (telah) lahir dari ujung renungan (hati)
Mengalun (indah) bersama kesunyian
Menepis semua (yang menyebabkan) kebisingan
(sehingga) Mengalir diantara mimpi dan bayangan
(senandung cinta) Adalah cinta (yang) terbawa (ke dunia) nyata diantara alunan nada
Rindu (mampu) memecah sepi, (hingga) lantang (terdengar) bergemuruh menderu (dalam) hati
Menabur mimpi, dalam hasrat (yang) menggebu di ujung (rasa) rindu
Dibalik nada-nada cinta, aku (berusaha) menemukanmu
Nada kasih (yang) mengalir menembus sukma
Menyentuh batin mengalirkan (kasih) sayang
(dalam) Nyanyian yang tiada pernah (bisa) tergores (oleh) tinta
Sungguh...betapa segala (rasa) resah mendesah
(ketika) Bimbang mengguncang (hati) dalam ketidak-abadian
Untuk siapa (-kah) nada ini kan menyapa
Di relung jiwa (telah) bersemayam segala rasa (gelisah)
Terhempas risau, melayang hilang (kata-kata)
Menjelajah hati (mencoba ) menjawab (sebuah) tanya
(hingga) Hadir membayang dalam bayang-bayang (-mu)
(terasa) Getar ujung jemari (ketika) kabarkan kehadirannya
Nyata terasa getaran (hati) dijiwa (ini)
Bening air mata, (terlihat) berkaca-kaca
Bak air telaga yang (telah) memantulkan gemerlap (cahaya) bintang
Sendu merayu ditengah heningnya malam (sunyi)
Bercengkrama bersama (dengan) titik-titik embun
Membongkar (rasa) dinginnya kabut (dalam) rahasia
Hingga kebenaran, (akan) datang menjelang
Nada (telah) lahir dari ujung renungan (hati)
Mengalun (indah) bersama kesunyian
Menepis semua (yang menyebabkan) kebisingan
(sehingga) Mengalir diantara mimpi dan bayangan
(senandung cinta) Adalah cinta (yang) terbawa (ke dunia) nyata diantara alunan nada
Rindu (mampu) memecah sepi, (hingga) lantang (terdengar) bergemuruh menderu (dalam) hati
Menabur mimpi, dalam hasrat (yang) menggebu di ujung (rasa) rindu
Dibalik nada-nada cinta, aku (berusaha) menemukanmu
3.4 Pembacaan Heuristik
Senandung Cinta
Khalil Gibran
Jiwa (yang ada di dalam tubuh dan menyebabkan seseorang hidup) yang (telah) terkapar (dalam) nada rindu (yang) mengusik kalbu (pangkal perasaan batin)
Khalil Gibran
Jiwa (yang ada di dalam tubuh dan menyebabkan seseorang hidup) yang (telah) terkapar (dalam) nada rindu (yang) mengusik kalbu (pangkal perasaan batin)
(dalam) Nyanyian (ungkapan hati berupa sebuah lagu) yang tiada pernah
(bisa) tergores (oleh) tinta
Nada kasih (yang) mengalir menembus sukma
Menyentuh batin (perasaan hati) mengalirkan (kasih) sayang
(dalam) Nyanyian yang tiada pernah (bisa) tergores (oleh) tinta
Sungguh...betapa segala (rasa) resah mendesah
(ketika) Bimbang mengguncang (hati) dalam ketidak-abadian
Untuk siapa (-kah) nada ini kan menyapa (orang yang belum diketahui)
Di relung jiwa (telah) bersemayam segala rasa (gelisah)
Terhempas risau, melayang hilang (semua rasa)
Menjelajah hati (mencoba) menjawab (sebuah) tanya
(hingga) Hadir membayang dalam bayang-bayang (-mu)
(terasa) Getar ujung jemari (ketika) kabarkan kehadirannya ( orang yang disayang )
Nyata terasa getaran (hati) dijiwa (ini)
Bening air mata, (terlihat) berkaca-kaca
Bak air telaga yang (telah) memantulkan gemerlap (cahaya) bintang
Sendu merayu ditengah heningnya malam (sunyi)
Bercengkrama bersama (dengan) titik-titik embun
Membongkar (rasa) dinginnya kabut (dalam) rahasia (suatu perasaan yang dipendam)
Hingga kebenaran, (akan) datang menjelang
Nada (telah) lahir dari ujung renungan (hati)
Mengalun (indah) bersama kesunyian
Menepis semua (yang menyebabkan) kebisingan
(sehingga) Mengalir diantara mimpi dan bayangan
(senandung cinta) Adalah cinta (yang) terbawa (ke dunia) nyata diantara alunan nada
Rindu (mampu) memecah sepi, (hingga) lantang (terdengar) bergemuruh menderu (dalam) hati
Menabur mimpi, dalam hasrat (yang) menggebu di ujung (rasa) rindu
Dibalik nada-nada cinta, aku (berusaha) menemukanmu
Nada kasih (yang) mengalir menembus sukma
Menyentuh batin (perasaan hati) mengalirkan (kasih) sayang
(dalam) Nyanyian yang tiada pernah (bisa) tergores (oleh) tinta
Sungguh...betapa segala (rasa) resah mendesah
(ketika) Bimbang mengguncang (hati) dalam ketidak-abadian
Untuk siapa (-kah) nada ini kan menyapa (orang yang belum diketahui)
Di relung jiwa (telah) bersemayam segala rasa (gelisah)
Terhempas risau, melayang hilang (semua rasa)
Menjelajah hati (mencoba) menjawab (sebuah) tanya
(hingga) Hadir membayang dalam bayang-bayang (-mu)
(terasa) Getar ujung jemari (ketika) kabarkan kehadirannya ( orang yang disayang )
Nyata terasa getaran (hati) dijiwa (ini)
Bening air mata, (terlihat) berkaca-kaca
Bak air telaga yang (telah) memantulkan gemerlap (cahaya) bintang
Sendu merayu ditengah heningnya malam (sunyi)
Bercengkrama bersama (dengan) titik-titik embun
Membongkar (rasa) dinginnya kabut (dalam) rahasia (suatu perasaan yang dipendam)
Hingga kebenaran, (akan) datang menjelang
Nada (telah) lahir dari ujung renungan (hati)
Mengalun (indah) bersama kesunyian
Menepis semua (yang menyebabkan) kebisingan
(sehingga) Mengalir diantara mimpi dan bayangan
(senandung cinta) Adalah cinta (yang) terbawa (ke dunia) nyata diantara alunan nada
Rindu (mampu) memecah sepi, (hingga) lantang (terdengar) bergemuruh menderu (dalam) hati
Menabur mimpi, dalam hasrat (yang) menggebu di ujung (rasa) rindu
Dibalik nada-nada cinta, aku (berusaha) menemukanmu
3.5 Pembacaan Hermeneutik
Bait I
nada kasih mengalir menembus sukma :
nyanyian itu hanya ada dalam hatinya
menyentuh batin mengalirkan sayang :
hingga menyentuh batin dan selalu ada didalamnya kerinduan itu.
Bait I
Penyair ingin mengungkapkan bahwa
perasaannya yang ingin disampaikan tidak dapat di wujudkan dalam suatu tulisan
melainkan hanya mampu memendamnya di hati.
Bait II
untuk siapa nada ini kan
menyapa : tidak mengetahui untuk siapa nyanyian yang tidak
terlukiskan itu untuk siapa.
Bait II
Penyair
menjelaskan kembali bahwa perasaannya tidak dapat diungkapkan melalui sebuah
nyanyian yang dikarenakan bahwa perasaannya bimbang atas apa yang dirasakan.
Bait III
hadir membayang dalam bayang-bayang:
munculah seseorang dalam hatinya
Bait III
Rasa bimbang yang dirasakan penyair
mulai hilang dikarenakan ia telah menemukan sang pujaan hatinya.
Bait IV
bak air telaga memantulkan gemerlap bintang :
dengan air mata itu iya merasa lebih melihat jelas siapa yang ada dalam hatinya
itu.
Bait IV
Penyair telah menyadari siapa orang yang
membuat hatinya berdebar hingga akhirnya ia mampu menitihkan air mata bahagia.
Bait V
hingga kebenaran datang menjelang :
ia hanya menunggu waktu hingga rahasianya itu akan terungkap suatu saat.
Bait V
Penyair merasa orang yang dicintainya
telah hilang karena saat itu ia tak mampu mengungkapkan perasaannya dan ia
hanya bisa menunggu waktu untuk mengungkapkan perasaan yang ada dalam hatinya.
Bait VI
mengalir diantara mimpi dan bayangan:
nyanyian itu akan datang dalam mimpi dan menggambarkan sesuatu.
Bait VI
Penyair hanya bisa merenungi perasaannya
yang disampaikan lewat sebuah senandung cinta dalam kesunyian dan berharap
sebuah mimpi akan mengantarkan pada sesuatu yang di cintainya.
Bait VII
dibalik nada-nada cinta aku menemukanmu :
dimulai dari nada yang tak terlukiskan itulah ia mulai mencari siapa yang ia
cintai dan menemukannya
Bait VII
Penyair
menyampaikan bahwa dari nada yang dituliskannya ia mulai menemukan harapan yang
baru dan menemukan apa yang selama ini dicarinya.
3.6 Matrik dan Model
|
Jiwa yang terkapar nada rindu mengusik kalbu ↔ mengungkapkan bahwa penyair
merindukan
seseorang dan ingin disampaikan lewat sebuah lagu
|
|
Nyanyian yang tiada pernah tergores tinta ↔ namun sebuah nyanyian itu tidak dapat
dituliskan
|
|
Nada kasih mengalir menembus
sukma ↔ nada / nyanyian itu hanya ada
dalam hatinya
|
|
Menyentuh batin
mengalirkan sayang ↔ hingga mampu
menyentuh perasaan sang penyair
|
|
Nyanyian yang tiada pernah tergores tinta ↔ penyair
ingin menjelaskan kembali bahwa nyanyian itu tidak dapat dituliskan
|
|
Sungguh...betapa segala
resah mendesah ↔ merasakan kegelisahan atas apa yang dirasakannya
|
|
Bimbang mengguncang dalam
ketidak-abadian ↔ kebimbangan atas perasaannya tidak akan abadi
|
|
Untuk siapa nada ini kan
menyapa ↔ penyair tidak mengetahui untuk siapa nyanyian yang tidak dapat
dilukiskannya itu
|
|
Di relung jiwa bersemayam
segala rasa ↔ dalam hatinya merasakan kebimbangan dan keresahan
|
|
Terhempas risau, melayang
hilang ↔ penyair merasakan kegelisahannya itupun menghilang
|
|
Menjelajah hati menjawab
tanya ↔ disini penyair sudah mulai mengetahui jawaban atas apa yang dirasakan
oleh hatinya
|
|
Hadir membayang dalam
bayang-bayang ↔ sosok yang ditunggu telah hadir dalam hatinya
|
|
Getar ujung jemari
kabarkan kehadirannya ↔ penyairpun merasakan kehadiran orang yang telah
menggetarkan hatinya
|
|
Nyata terasa getaran
dijiwa ↔ hatinya mulai berdebar
|
|
Bening air mata,
berkaca-kaca ↔ penyair mulai menitikan air mata karena kebahagiaannya telah
mengetahui siapa yang disintainya
|
|
Bak air telaga yang
memantulkan gemerlap bintang ↔ semakin jelas siapa yang dicintainya
|
|
Sendu merayu ditengah
heningnya malam ↔ penyair merasa sedih
|
|
Bercengkrama bersama
titik-titik embun ↔ kesedihannya semakin terasa
|
|
Membongkar dinginnya kabut
rahasia ↔ penyair mempunyai rahasia yang ingin diungkapkannya
|
|
Hingga kebenaran,
datang menjelang ↔ namun hanya menunggu waktu yang akan menjelaskan
semuanya
|
|
Nada lahir dari ujung
renungan ↔ nada cinta itu lahir dari renungan yang dirasakan penyair
|
|
Mengalun bersama kesunyian
↔ nada itu ada ketika hati sedang merasa sunyi sepi
|
|
Menepis semua kebisingan ↔
nada itu akan datang untuk menyejukkan hati
|
|
Mengalir diantara mimpi dan bayangan ↔ hingga terbawa mimpi hingga
menggambarkan sesuatu
|
|
Adalah cinta terbawa nyata
diantara alunan nada ↔ nyanyian ini merupakan ungkapan perasaan hati penyair
|
|
Rindu memecah sepi,
lantang bergemuruh menderu hati ↔ kerinduan yang dirasakan menemani sang
penyair disaat sepi
|
|
Menabur mimpi, dalam
hasrat menggebu di ujung rindu ↔ dengan nyanyian itu penyair mulai menemukan
hasrat yang baru
|
|
Dibalik nada-nada cinta,
aku menemukanmu ↔ dari nada yang tidak dapat dituliskan oleh penyair, ia
berusaha mencari dan menemukan orang yang dicintainya
|
3.7 Varian
Varian
dalam puisi ini tergambar keinginan penulis untuk berusaha mencari sesuatu yang
membuatnya bahagia, dalam hal ini adalah orang yang dicintainya. Dalam larik
puisi ini bimbang mengguncang dalam
ketidak-abadian untuk siapa
nada ini kan menyapa penulis merasakan kebimbangan
yang begitu mendalam hingga merasa resah. Tak tahu untuk siapa perasaan yang
dirasakannya sekarang, kebimbangannya selalu menyelimuti dan tak pernah tahu
sampai kapan terjadi. Hingga akhirnya ia menorehkan kembali kata – kata menabur
mimpi, dalam hasrat menggebu di ujung rindu dibalik
nada-nada cinta, aku menemukanmu dan berarti
ia hanya mampu memendam apa yang dirasakan ketika mengetahui bahwa ia telah
menemukan seseorang yang ternyata selama ini dinantikannya, tak berani dalam
mengungkapkan apa yang dirasakanya hanya itulah yang dilakukan.
Sebenarnya ketika merasakan dan menemukan apa yang telah membuat jatuh
cinta, merasa tedu dan nyaman bersamanya sebaiknya utarakan saja isi hati yang
apa adanya, karena cinta merupakan anugerah terindah dan tak akan bisa ditebak
kedalamannya. Menyembunyikan apa yang dirasakan dalam hati hanya akan
menyakitkan diri sendiri, karena cinta merupakan misteri yang sulit dimengerti
dan dipahami. Jadi ungkapkanlah apa yang dirasakan oleh hati, sebelum semua
terlambat dan menyesal dikemudian hari.
.
BAB IV
PENUTUP
4.1
Simpulan
Puisi
Senandung Cinta karya Kahlil Gibran ini mencoba menorehkan suatu perasaan yang
tak mampu tersampaikan dengan baik. Pemilihan kata yang begitu indah dalam tiap
bait puisi membuat puisi ini sayang untuk diabaikan. Puisi ini dianalisis
melalui intepretasi semiotik riffatere. Pemaknaan puisi ini menggunakan teknik
pembacaan heuristik dan hermeneutik. Hasil analisis puisi ini kemudian disusun
dalam bentuk sebuah makalah untuk memenuhi persyaratan ujian akhir semester
genap.
4.2
Saran
Memiliki
sebuah rasa yang menggetarkan hati janganlah hanya dipendam sseorang diri,
hendaknya diungkapkan ketika sudah mengetahui untuk siapa rasa itu tertuju.
Terpendamnya perasaan yang ada hanya akan menyiksa diri sendiri, membuat hati
dan hidup menjadi bimbang dan resah. Ungkapkan saja apa yang sebenarnya telah
terasa dalam hati, sehingga mampu mengetahui bahwa sebenarnya apa yang terjadi
itu tidak pernah salah.
DAFTAR PUSTAKA
Riffaterre, Michael.
1978. Semiotics of Poetry. Bloomington: Indiana University Press.
Aminuddin.1995.
Pengantar Apresiasi Karya Sastra. Bandung: Sinar BaruAlgesindo.
Barthes,
Roland. 1981. Elements of Semiology. New York : Hill and Wang
Barthes,
Roland. 1975. The Pleasure of the Text. New York: Hill and Wang
Berger, Arthur Asa. 2005. Tanda-Tanda dalam Kebudayaan
Kontemporer,Sebuah Pengantar Semiotika (Terjemahan dari: Signs in
Contemporary Culture, An Introduction to Semiotics), Jogja: Tiara
Wacana.
Blackwell,
Basil. 1986. Feminist Literary Theory: A Reader. Oxford: Basil Blackwell
Inc.
Buchbinder,
David. 1991. Contemporary Literary Theory and the reading of
Poetry.
Australia: The
Company of Australia PTY. Ltd.
Chandler,
Daniel. 2007. Semiotics: The Basic. New York: Rouledge.
Cole,
Camille & Andrew Smithberger. 1931. On Poetry. New York: Doubleday,
Doran
& Company, Inc.
Davis,
Robert Con. 1986. Contemporary Literary Criticism: Modernism Through
Poststructuralism. London: Longman Inc.
De
Beauvoir, Simon. 2003. The Second Sex. Yogyakarta: Pustaka Pelajar
Eco,
Umberto. 1979. A Theory of Semiotics. Bloomington: Indiana University
Press
Fokkema,
DW. 1977. Theories of Literature in the Twentieth Century. London: C.
Hurst
& Company
Goldmann,
Lucien. 1981. Method in the Sociology of Literature. Oxford: Basil
Blackwell
Inc
Hawkes,
Terence. 1978. New Accents Structuralism and Semiotics. London:
Methuen&Co
Ltd.
Holman,
Hugh. 1981. A Handbook to Literature. Indianapolis: Bobbs-Merrill
Educational
Publishing
Jabrohim(ed).
2001. Metode Penelitian Sastra. Yogyakarta: PT. Hanindita Graha ,
Widia.
Jacobson,
Roman. 1960. Lingusitics and Poetics. Cambridge: M.I.T. Press
Jauss,
Hans Robert. 1982. Toward an Aesthetic of Reception. Minneapolis:
University
of Minnesota Press
Jacobson,
Roman. 1960. Linguistics and Poetics. Cambridge: M.I.T. Press
Junus,
Umar. 1985. Resepsi Sastra: Sebuah Pengantar. Jakarta: PT. Gramedia
Perrine,
Laurence. 1969. Sound and Sense: An Introduction to Poetry. America:
Hartcourt,
Brace & World, Inc.
Pradopo,
Rachmat Djoko. 1991. Pengkajian Puisi. Yogyakarta: Gadjah Mada
University
Press
____________________.
1987. Kritik Sastra Indonesia Modern. Yogyakarta:
Gadjah
Mada University Press
Prihatmi,
Th. Sri Rahayu. 2004. Buku Pedoman Penulisan dan Konsultasi Tesis.
Semarang:
Proram Magister Ilmu Susastra Undip
Ratna,
Nyoman Kuta. 2006. Teori, Metode, dan Teknik Penelitian Sastra .
Yogyakarta:
Pustaka Pelajar
Scholes,
Robert. 1978. Structuralism in Literature. New Heaven and London:
Yale
University
Selden,
Raman. 1986. A Reader’s Guide to Contemporary Literary Theory.
Sussex:
The Harvester Press.
The
Norton Anthology of American Literature. Third Edition volume 2. 1989.
New
York: W.W. Norton&Company, Inc.
Waluyo,
Herman J. 1987. Teori dan Apresiasi Puisi. Jakarta: Erlangga
Wardoyo,
Subur. 2005. Semiotika dan Struktur Narasi. Kajian Sastra. Vol
29.
Semarang
Worton
and Still. 1991. Intertextuality: Theories and practice. Manchester:
Manchester University
Press